Penanggungjawab
GERILYA
Editor
GERILYA
Kontributor
Suluh DP.
Distributor
Isnan A.
Workbase
Konter a’an
Jl. Babatan I no 28
Website
www.gerilya8.blogspot.
com
Email
gerilya_8@yahoo.com
Tim Boyok Sempal
Tim Ajez PA/GU
INTERMESO
Siap!!! Yakin ta?
Sugeng rawuh teman-temen mahasiswa dan terutama mahasiswi angkatan 2008 di belantara Unesa. Siaap!! Yakin tha??
Yaopo anune rek? Wis ga anu tha? Sing ngunu tambah ngono ta anu? Sakjane kepingin anu tapi anune wis ngunue!! Enake anune digawe ngono-ngonoan ae!! Setuju ga setuju buyar.
Sekadar combe-combe lagi sekaligus per-kenalan untuk teman-temen yang baru kali ini memegang GERILYA, berikut adalah maksud keberadaan kami (sejak awal terbit), yaitu: 1)Turut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa, 2)Turut serta menjaga perdamaian dunia, 3)Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Fakultas Bahasa dan Seni, serta 4)Menjaga stabilitas kenyamanan berkuliah.
Sebagai sebuah media (lha koen sopo?), tentu kita mempunyai fungsi dan tujuan. Pada prinsipnya GERILYA datang di saat yang tidak penting tapi penting dan ada demi kepentingan bersama, kalo reaksi pembaca puas dengan GERILYA, kami seneng. Tapi kalo ada semacam manusia yang tersinggung, kami lebih seneng. Berarti yaa tujuan kami tercapai.
Inilah kami, dan beginilah rubrik kami, yang berada di jalur lain, yang mencoba menawarkan perbedaan dari rubrik yang lain-lain. Semoga karya sastra tetap dipandang dan dihargai sebagai karya sastra.
Hidup kebebasan berekspresi!!
Daripada mbatin thok rek...
Lebih baik tak tulise...
Sing bener/ga bener, iki yo dalam rangka mencintai FBS, kritik ga berarti etrek-etrek.
Yo sopo eroh... akhire gak diperhatikan, tapi lak wes dibaca...
****YO WIS SELAMAT AE****
Ospek: Don’t Worry Uuu...yeah...
Hallo... Hallo... Mahasiswa baru (maba), yaopo rek ospek e? enak ya dibentak-bentak mahasiswa lawas (senior)? dikongkon ngono-ngene, nggawe ngono-ngene, trus nggowo ngono karo ngene. Yo wis sing penting isok kuliahlah...
Sakjane lho sekelumit hal di atas bukan kalian saja yang pernah ngalami, awak-awak iki lho wis mblenger aliase bosen (bored) malahan, mosok sejak SMP sampek SMA...(dengan terminologi beda tapi realitasnya tetep) embohlah rek, yaopo ngunu iku??
Lhaa... seperti ospek yang pernah kita alami bersama, aksi-aksi senior telah menjadi lingkaran setan yang menyelimuti dunia pendidikan. Lebih parahnya lagi semua itu diterima sebagai hal yang wajar oleh para “korban” maupun sebagian penghuni kampus. Sebagai contoh kecil saja, mungkin sebagian dari kita pernah dibentak ataupun diejek oleh para “oknum” panitia ospek sehingga dalam diri “korban” menimbulkan ketakutan psikis. Naah...ketakutan psikis ini tanpa disadari kemudian mengalir menjadi ketakutan fisik, dimana reaksi para Maba kalau cuma diam selama ospek yo agak memudahkan para senior mem-plokotho kita alias banyak godaan dan gangguan.
Saiki lho rek tahun 2008, koq... mbohlah sakkarepmu?? Masih perlu tha dengan pola menakut-nakuti dan di takut-takuti?? Boleh mikir asal jangan parkir!!
Yo wis diakhiri ae timbang mbulet. Sing penting harapan kami dari kegiatan ospek yang diadakan pihak kampus beberapa minggu lalu tidak mubazir atau percuma, dengan memunculkan mahasiswa/mahasiswi yang mampu berpikir kritis serta di tunggu ide-ide segarnya (semoga), walaupun tidak banyak yo ga po2 sing penting maneh yakin ae rek sama ide perubahan dari kalian biar suatu sistem berjalan dengan semestinya demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat FBS dan menjaga stabilitas kenyamanan berkuliah. Anggap tidak ada lagi senior dan junior, yang ada hanyalah penciptaan mahasiswa/mahasiswi yang egaliter karena kita di sini sama-sama belajar demi menatap masa depan cerah biar ajiip...
Akhirnya semboyan yang mendengungkan “senior pasti benar” perlu didekontruksi oleh mereka-mereka yang sadar akan kebenaran sejati dan bukan kebenaran semu. Bravo FBS...
FBS bersatu tak bisa dikalahkan!!
Yakin tha??
Hidup mahasiswi!!
(mahasiswa ga usah)
Jayalah Unesa (aaamiiiiinnn)
We’ll be right back ... hehehe...
*)GERILYA
Karya Sastra Tanpa Intervensi (?)
Dalam kehidupan yang sudah terlalu banyak cincong ini, sebuah karya sastra seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi —dalam arti dinamis-. Karya sastra sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif untuk membuat “yang berbeda” dalam hidup kita yang sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.
Sepaham dengan Sapardi Djoko Damono, “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutinitas yang mengelilingi kita. Kehadirannya membuat kita bisa melakukan perjalanan “ulang-alik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.
Mungkin itulah sebabnya Om Sapardi mewanti-wanti mereka yang menulis sastra di koran untuk tak mau kalah dengan berita. Ya, hari ini, kita adalah manusia-manusia yang tak lagi mudah terkejut atau gampang menyebut sesuatu sebagai sensasional. Teknologi yang terus dipercepat itu telah memungkinkan kita melihat banyak hal ganjil, langka, sekaligus menggetarkan, dalam frekuensi yang amat sering.
Tanpa adanya sorotan yang kadang harus “melibatkan” banyak media massa misalnya, sebuah kejadian akan mudah kita lupakan dan membuat bosan. Tapi yo..., perlu diingat rek bahwa kodrat media massa memang hanya bisa memberi sesuatu yang mungkin saja secara kuantitatif amat banyak tapi secara kualitatif menjadi amat jauh dari “kebutuhan” pribadi kita. Oleh karenanya, ia bisa sangat membosankan, bahkan sebelum ia benar-benar sampai di depan mata kita.
Pada titik itulah karya sastra seharusnya hadir. Ibarat satriya piningit yang ditunggu-tunggu dengan tubuh tergopoh yang kokoh atau malah sudah siap roboh, ia mungkin akan datang pada kita secara kebetulan. Awalnya mungkin kita merasa sama sekali tak terkesan pada karya sastra dan telah siap mengusirnya pergi dari hadapan kita. Tapi percakapan sebentar dengannya bisa jadi akan membuat kita terpesona, lalu kita akan menyilakannya tinggal lebih lama dan kita akan mendengarkannya banyak bicara dalam waktu yang jauh lebih lama.
Setelah semua itu, mungkin saja mendapati diri sebagai seorang yang telah kuyup metafora atau telah menjelma menjadi manusia yang teliti pada diksi atau rima. Tiba-tiba, ia telah ada di hati dan kita membawanya ke mana saja kita pergi. Kita boleh saja berpisah dengannya —lama atau sebentar— tapi suatu saat kita yakin akan menemuinya kembali: mungkin saja ia yang kembali datang pada kita atau justru kita yang mendatanginya sambil tergopoh-gopoh. Di situlah, sebuah karya sastra akan jadi subversi.
Masalahe rek, tak semua puisi atau fiksi selamanya menjadi subversi. Kadangkala, karya sastra justru menjadi sekadar “repetisi” dari dunia yang kita diami sehari-hari. Ya, tidak semua karya sastra yang kita jumpai akan memberi kita subversi: sebagian hanya menyuguhkan kata-kata yang “belum jadi”, sebagian lainnya sibuk memberitahu sesuatu yang sudah kita dengar ribuan kali melalui berita, sinetron, kitab suci, kuis, atau iklan. Karya sastra dalam dua jenis itu sudah tentu akan jadi sesuatu yang justru menambah kebosanan kita.
Ketika sebuah zaman di mana seseorang bisa memaki presiden tanpa harus takut masuk bui, masihkah kita membutuhkan puisi-puisi bernada protes? Tapi rek, di jalanan atau di coretan dinding, di kantor atau kamar mandi, kita masih terus-terusan disuguhi protes? Bukankah Indonesia hari ini adalah sebuah negara yang hidup dari protes ke protes?? Yo weslah !!
Sejumlah penyair memang melahirkan sejumlah puisi yang disebut-sebut sebagai “roh gerakan” (kebangsaan?) dengan bernada protes, ternyata hal tersebut bisa sangat berarti bagi kita, bukan hanya sebagai pribadi tapi juga sebagai sebuah bangsa. Sebutlah nama penyair seperti ; Taufiq, Rendra, dan Wiji Thukul. Mereka hidup dalam suasana yang berbeda amat jauh dengan kita. Taufiq ada dalam pusaran perlawanan terhadap orde lama: puisi-puisinya dalam “Tirani dan Benteng” adalah manifestasi dari “janji untuk bertindak” yang didorong oleh sejumlah demonstrasi. Rendra dan Thukul ada dalam era orde baru yang amat anti terhadap segala hal yang subversif. Maka, sajak-sajak pamflet Rendra dan kata-kata Thukul —“Hanya ada satu kata: lawan!”— menjadi sesuatu yang amat berarti kala itu karena tak banyak yang berani memproduksinya.
Sebuah sajak protes, bagi sebuah pemerintahan yang tak membolehkan kritik, bisa menjadi sesuatu yang amat “menakutkan” karena ia bisa membuat orang ramai tahu ada suara berbeda yang masih hidup. Sajak protes, sama seperti ketelanjangan, bisa menjadi sesuatu yang subversif ketika ia ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tapi keduanya hanya akan menjadi lucu ketika hidup dalam suasana yang tak mendukung.
Membaca sajak-sajak yang demikian, mungkin kita justru akan diam di tempat atau segera merasa bosan dan kemudian cepat lupa bahwa kita pernah membacanya (?!?) Sekirane awak dhewe wes ngertilah, sekarang tinggal bagaimana kita sebagai generasi muda harapan bangsa (...wuuuih) melanjutkan arahnya ????!!!!!!
Wassalam. ;-)
S03L03H
*)Diunduh dari berbagai sumber
Apa Kata Dia Orang???
Oleh
Cintcha Lauworeq*)
Awalnya kitcha ouwrang sempat ragu untuk menurunkan tulisan ini dalam GERILYA, karena bukanlah suatu kebiasaan membuat semacam reportase atas suatu peristiwa dalam rubrik ini. Tetapi kenapa tidak, toh semangat GERILYA tetap ada dalam bentuk tulisan berikut, dan yang terpenting berfungsi. Fungsinya apa? Yo, seperti biasanya lo, gak lupa kan?? Demi FBS yang kitcha ouwrang cintai bersama.
Kichta ouwrang gak bisa... -alah pegel rek! Biasa ae yo?!!- (...Lagi) Kita gak bisa tinggal diam mengetahui sesuatu yang bisa sangat berguna terlewatkan begitu saja, apa lagi untuk kebaikan. Hhh... Yo weslah!! Sudah saatnya disebarluaskan, hal penting itu adalah:
Pidato Sambutan Bapak Dekan FBS dalam Yudisium Mahasiswa S1 dan D3 Semester Genap 2008, ini penting rek!
Yakin ta?? Yo wes, yakin.
Tapi sepenting apa pun tetap kita bawa nyantai aja, OK?
Saudara-saudara, kenapa kita anggap penting karena Bapak Dekan menyoroti FBS, artinya kita dapat melihat FBS dari sudut pandang pemimpinnya langsung, mantab kan? Patut kita hargai kedatangan Bapak Dekan waktu itu, dalam keadaaan tidak begitu sehat beliau memaksakan diri untuk hadir dalam upacara tersebut.
123! Satu per satu ritual acara dilaksanakan. Bukan itu, yang kita ulas di sini adalah pidato sambutan beliau, berikut adalah beberapa ungkapan yang kami kutip:
“ITU NAMANYA KURANG AJAR”
Seperti disiram air es di tengah hari yang gerah, segerrr! Ya, ungkapan bercetak tebal di atas ditujukan kepada dosen-dosen yang molor memberi nilai pada mahasiswanya, bahkan sampai beberapa semester setelah kuliah berakhir. Beliau juga tahu kalau sering terjadi, bahwa ada mahasiswa yang disuruh mengambil nilai ke rumah si dosen, padahal rumah si dosen jauh dari kampus, bahkan di luar kota. Terutama dosen-dosen dari jurusan ‘ini’.
Ah, jerit hati kita terdengar juga, benar kan saudara?? Atau paling tidak mereka sudah dicap kurang ajar. Semoga bisa menjadi pelajaran dan tidak meruncingkan hubungan antara mahasiswa dengan dosen.
“SAYA JADI NELONGSO”
Demikianlah ungkapan Bapak Dekan ketika mengetahui salah seorang ketua jurusan tidak hadir dalam upacara yang cukup penting tersebut. Terlepas dari penting atau tidaknya, wajib datang dan tidaknya menurut beliau yudisium tetap perlu, dan beliau mengaku memaksakan diri untuk hadir meskipun dalam keadaan sakit rematik, dan memang benar sepanjang acara beliau hanya bisa sambil duduk. Maka, kembali jurusan ‘ini’ jadi sorotan, padahal lo... !!
Ah, gak taulah, yang jelas banyak dari mahasiswa jurusan ‘ini’ juga mengaku kecewa. “Sepertinya kita dilepas tidak sehangat kita diterima dulu, apa kurang bayarnya ya?” demikian tutur ED, mahasiswa jurusan ‘ini’. Suatu ungkapan sederhana yang bisa jadi memang demikian(?).
“KITA SELESAIKAN DENGAN DAMAI SAJALAH”
FBS masuk metropolis watch, Jawa Pos edisi 26 Agustus 2008. Sungguh disayangkan, apalagi penulisnya adalah pacar seorang cewek dari jurusan ‘itu’ di FBS Unesa yang mengaku kecewa terhadap kinerja birokrasi Unesa.
Kemudian Bapak Dekan menyatakan kekecewaannya jika sampai benar-benar terjadi hal demikian, maka beliau tidak membenarkan apa yang telah dituliskan di rubrik “wadulan” dalam koran nasional tersebut.
Di antara teman-teman mahasiswa yudisium juga setuju, bahwa serumit apapun urusan administrasi dan masalah yang kadang terjadi dengan petugas yang berwenang, semua masih dalam taraf wajar, dan dapat dimaklumi, kita akan tetap menjunjung tinggi nama kampus ini. Unesa!!!
...Oh, Almamaterku tercinta aku akan selalu... OK, cukup!
Akhirnya acara selesai dengan dipapahnya Bapak Dekan oleh dua orang pegawai TU untuk meninggalkan ruangan.
Tentu saja, tidak semua kutipan dapat dimuat di sini. Kita tidak memilih yang manis-manis, karena terlalu biasa. kita hanya mengambil beberapa bagian yang dapat dijadikan kritik sebagai upaya untuk kemajuan FBS, dan ternyata bagaimana hasilnya saudara-saudara? Ah, semoga kesimpulan kita tidak jauh berbeda.
Sekali lagi, semua bahan di atas diolah langsung dan asli dari pemimpin FBS. UASLI!!
HIDUP FBS!!!
*)Penulis tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa yang pengen diakui sebagai pengguna Bahasa Indonesia yang baik dan benar, saat ini menunggu hari eksekusi.
Cerpen:
Lelaki yang Kehilangan Senja
Oleh
Dody Kristianto*)
Denyut kota tiba-tiba mendadak hitam. Kota berubah dengan alir mati mengikut alur dari cerita seorang pengarang yang memotong senja. Ya, semenjak senja dipotongnya, tanganku tak lagi mampu membedakan mana kanan dan kiri. Mataku sering kali ketakutan, mengintip mataku sendiri. Serta bayanganku, yang acapkali terlepas kabur diburu oleh jejak kegelapan. Aneh, bukankah bayang-bayangku sendiri adalah representasi dari kegelapan?
Tapi tidak demikian dengan sebuah keluarga. Atau lebih tepat tetangga berselisih dua rumah dari rumahku. Mereka begitu hidup. Kehidupan mereka begitu malam. Pernah suatu ketika aku melihat mereka sekeluarga beramai-ramai mencopot otak mereka. Hii... Tapi itu dua bulan lalu ketika aku kali pertama tiba di kota ini, untuk mengikuti hilangnya senja yang dipotong oleh seorang pengarang. Ah, pengarang yang iseng, apa yang ada dalam pikirannya? Aku tak tahu. Mungkin juga sama dengan pikiranku yang anehnya juga ingin memotong senja.
Pun aku juga kerap berkirim surat elektronik untuk si pengarang.
”Pengarang yang terhormat, kiranya aku pun juga hendak memotong senja, sama dengan alur cerita yang kau bangun. Hai, mengapa engkau selalu mendahuluiku? Tidak hanya itu, kau bahkan menyalipku dengan sedan silver-mu yang kutahu terdapat bekas goresan pada pintu sebelah kanan. Dan kalau kuingat, itu terjadi ketika aku ingin menangkap dan membingkai senja. Kau terlalu egois. Betapa senja itu telah engkau kantongi. Aku cuma bisa menengok, melongok ke dalam jantungku. Tidak, tak cuma jantungku. Bahkan juga mataku, telingaku, lidahku. Juga kutengok jauh ke dalam otakku, kubongkar. Tanpa senja tentunya”.
Sejak itu, senja jadi semacam obrolan di kota ini. Bagiku senja sudah menjelma hantu dan si pengarang asyik masyuk memainkan senja di kantongnya. Setiap sore, kujumpai orang-orang mengais bintang. Bintang? Lalu apa hubungannya dengan senja. Sepertinya tidak ada dan lucu sekali. Sebuah rumah persewaan kunang-kunang di buka sebagai pengganti rasa penasaran terhadap senja. Tapi aneh sekali, kota yang tadinya metropolitan ini jadi kota yang kehilangan senja. Senja yang aneh, sudah jadi tren di kota kasihan ini.
Sementara aku sendiri tak begitu percaya kau semudah itu memunculkan senja sebagai cerita berbingkai dalam kumpulan ceritamu. Mungkin juga cerita-ceritamu sudah menjelma novel kecil. Novel yang menculik senja. Kau masih saja asyik memainkan senja di kantongmu. Tak peduli betapa kau dikejar oleh polisi, tentara, helikopter yang siap memburumu di mana pun kau berada, sampai di got gelap sekalipun. Dengan segala hormat, aku pun mulai putus asa. Betapa rumahku kini panas, menara-menara patai, tempat persinggahanku ketika hari sore tak lagi ceria. Semua karena keegoisanmu yang memotong senja dalam ceritamu. Untuk pacarmukah? Egois sekali.
Untuk sekali ini, aku pasrah, takkan kukejar senja yang sudah kau kantongi. Biar kau peluk senja sebagai bantal, gulingmu atau juga boneka yang menemani perjalananmu. Biar aku lupakan senja. Atau juga menemukan senja baru. Senja yang tentunya belum sempat kau potong dan tersimpan dalam kantongmu. Aku tak mau untuk kali kedua kau dahului. Tentu aku akan mencari senjaku sendiri. Dan aku ingin sekali
***
Lalu mulailah kucari senja. Kujejaki dalam mimpiku. Pertama, aku penasaran pada keluarga yang begitu hidup, begitu malam. Aku curiga barangkali mereka menyimpan senja. Barangkali juga mereka percik senja. Tapi entah, otakku juga turut berseri saat memandang mereka. Rambut-rambut dari kepalaku mulai rontok, sampai kepalaku berkilat seperti halnya senja. Tidak. Ini bukan senja yang kucari. Ini bukan senja. Ini aneh.
Sekejap kemudian mereka kuhindari. Mereka aneh, bahkan sangat aneh. Dan tidak mungkin senja yang damai kutemukan pada keluarga seaneh itu. Ke mana lagi harus kutemukan senja? Semoga aku beruntung saat terlempar dalam mimpiku. Bukankah mimpiku ini masih belum terjamah? Belum tersentuh, sekalipun oleh diriku. Aku mulai bergerak menyusuri tepian pantai. Waktu masih menunjukkan pukul 15.00, masih ada harapan. Dan harapan itu memang ada dalam pikiranku. Seperti juga senja yang ada di depanku, yang selama ini kucari dan kuburu.
Memang indah, memang anggun senja sore ini. Sekian bulan sudah aku tidak menikmati senja. Akhirnya tiba juga senja yang pulas. Tapi tiba-tiba sekejap saja pantai ini didatangi satu per satu penduduk kota. “Hei, ini senjaku. Ini mimpiku!” teriakku pada mereka. Mereka tak peduli. Mereka tak mendengarku. Mereka makin asyik saja menikmati senja yang sekian lama hilang dalam hidup mereka. Mereka mengabaikanku. Tapi ini mimpiku, tentu hanya aku yang berhak atas senja yang selama ini kucari.
Namun kami semua terkejut. Senja tiba-tiba merayap hilang dan seperti terpotong. Kami semua gugup, berteriak resah. Tak terkecuali aku sang pemilik senja. “Hei, ke mana senjaku? Apa yang kalian lakukan pada senjaku?” tanyaku. Mereka semua panik. Mereka berhamburan semburat. “Senja hilang, senja hilang lagi!” teriak mereka. Mereka tak perduli pada pertanyaanku.
Dan aku melihat sesosok yang kukenal. Dengan sedan silver, dengan bekas goresan pada pintu sebelah kanan. Ah, dia si pencuri senja, dia si pengarang. “Oi, tangkap dia!” orang-orang berteriak marah. Si pengarang tancap gas bersama senja yang sudah dikantonginya. Para penduduk kota tak ketinggalan mengejarnya. Aku langsung menaiki motorku. Kukebut dengan harapan aku bisa mengejar si pengarang. Semua yang ada di kota ini dikerahkan. Anjing-anjing pelacak, polisi, tentara, helikopter, pesawat pembom. Seluruhnya beramai-ramai mengejar si pencuri senja. Malam ini headline pada acara televisi, radio, koran, majalah, serta jurnal-jurnal adalah “SI PENCURI SENJA BERAKSI LAGI”. Kota kembali murung.
Si pengarang terus tancap gas dengan senja di kantongnya. Tak peduli bahwa seluruh kota mengejarnya. Aku pun tak kalah giat memburunya. Motorku terus kupacu, melewati jalan-jalan, gang-gang demi kudapatkan senjaku yang hilang. Tapi pengarang itu begitu lihai. Sorotan pesawat dan helikopter berhasil dilewatinya. Begitu juga dengan endusan anjing pelacak yang bisa dikelabui. Ia bisa tenggelam. Ia ditelan waktu. Aku kehilangan jejaknya. Ia hilang. Ia seperti pesulap yang dengan luar biasa menghilangkan menara tertinggi di dunia. Bahakan lebih dari itu. Ia adalah pencuri yang licik. Ia adalah pengarang yang luar biasa.
***
Malam ini kota kembali ramai. Senja yang hilang. Kota yang senyap. Penduduk yang histeris kehilangan senja. Mereka masih mencari di setiap sudut kota di bawah kolong jembatan, gorong-gorong maupun terminal bawah tanah. Tapi, aku sudah lelah. Kepalaku penat. Rambutku mulai berjatuhan. Berita-berita di televisi masih serius mengabarkan hilangnya senja. Aku mulai tidak kuasa menahan rasa lelahku. Aku mengantuk. Aku ingin tidur. Namun, bukankah aku sedang bermimpi? Dan kenapa aku harus tertidur dalam mimpiku? Bukankah aku harus segera mencari senjaku yang hilang?
Tiba-tiba aku menerima sebuah surat elektronik. Ternyata berasal dari si pengarang. Isinya berbunyi: ”Saudaraku, terima kasih engkau mau mengalah memberikan senja dalam mimpimu untuk ceritaku. Aku sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Pun, aku juga bukan orang egois. Aku tidak akan memotong senja hanya untuk pacarku. Aku cuma ingin membingkai cerita ini. Teruslah memburu senja. Kelak kita akan bertemu setelah kau temukan senjamu. Biar cerita ini terus mengalir dan membangun senja dalam dirimu. Teruslah mencari senja. THANKS, PENGARANG”. Sontak kubanting layar komputer sampai pecah berkeping-keping dan dari pecahan-pecahan itu terpercik bunga listrik.
“Kurang ajar!”
*) Penulis adalah pelajar Unesa
Puisi:
Di Bangku Malam
Kupangku keesahan dalam benak membara
Terhunus keris yang mengabur indah
Meronta segala rona jiwa terbukti di kali berbuih
Kereta memutar resah menjala gelisah
Sehari sudah mengolah gerak
Tapi malam kan mengelam
Sesampai hitam menikam
Berbagai sepi terurai sampai pagi
Air mata mengalir lagi
perspektifsastra.blogspot.com
Perang
Kirab panglima tertatih menjemput pedih
Sekompi artileri berurai perih
“aku menanggung malu pati negeriku”
Kira ini sensasi?
Telah berjuang sekompi ini
Kupasung anak isteri di bui(.)
Hingga habis usia ini
Berkoar dalam bencana
Menggila di arena pancung diri
Berebut nasi sepanci
Di terik mentari.
(saat kuliah hari rabu presentasi proposal pagi cukup dingin)
perspektifsastra.blogspot.com
Rabu, 10 September 2008
Diposting oleh GERILYA di 21.17 0 komentar
Minggu, 23 September 2007
Gerilya Edisi 4

Ta’ Sunggo’i....!!???*)
Halo konco koncoku..Halo sahabat sahabatku..Halo dulur dulurku..Halo koncone koncoku..
Tanpa bermaksud mengurangi nilai estetika yang ditawarkan oleh teman-teman dalam karyanya di sini, Pengantar dari kita pembawaannya emang gini, Relax.., Santai.., Enjoy.., mungkin rodo’ Nggaple’i. Tapi intinya gak gitu, iki serius wah!! “Paham ya, maksud saya ?”
Ho hoouey..!! ☺
Parahnya, sempat terpikir gak ada edisi Gerilya kali ini, ‘cuz satu dan lain hal. Untungnya kita segera ingat bahwa GERILYA merupakan media milik khalayak, yang berarti bukan hanya milik satu golongan (banyak yang udah ngantri e).
Akankah GERILYA rampung?
“ooo...gak bisa gitu!!”
“Kan gak asyik to?!!!”
inilah alasan tema yang kita angkat untuk edisi kali ini
“Perang Belum Berakhir”
Dan satu hal lagi, “Kenapa Satu? Yaa.., saya tau satu itu default, tapi dibalik itu ada sesuatu”.
Apa yang kita hadirkan kali ini semoga berkenan buat teman-teman. “Yaaa...nggak banyak sih, tapi semoga bisa membantu kalian”
Ini jadi semacam hasrat yang nggak bisa dibendung lagi, hingga pilihan kata yang meluncur: “Keleresan, kulo badhe nderek bebucal” ... mak brull.
(Alaah..!! iki opo maneh?!! )
Poko’e ekspresi ini harus disalurkan di tempat yang benar.
G E R I L Y A ! !
Kalo masih bingung dengan kata-kata kita, silahkan mencoba “Pendekatan Cultural Studies”.
Oh iyo.., meh lali Bo’ !!
Awak dewe ape matur suwon:
Semua teman-teman yang telah ndukung & nyumbang GERILYA (Moril & materiil)
F Tse (Kiriman Detektifnya), Tim Cagak (Kita sama-sama hamba Allah), METAMORF*** (LAKUM DIINUKUM WALIYADIIN), Trio Kebo (Aduhai.., kalian berlebihan), Trio Macan (Saran Yang Konstruktif), Koncone Koncoku (Sepurane=Suwon), SR ‘04 (Kelas Yang Aneh), Arek Non Reg (We Love U Guys!), 9 Bidadari Sastra Inggris (Masya Allah!!!, Karaoke dengan kalian benar-benar bikin kita Puas !! )
Pak Jack P. (Atas Saran dan Cokcokcokcoknya)
Pak Nadjid (Dukungan dan Kontribusinya)
Dan semua pihak yang telah mengontaminasi & menginspirasi kita, termasuk dalam bentuk kutipan-kutipan.
*) Variasi Bhs. Khas Gresik
SELAMAT MENIKMATI
**** PELOEK TJIOEM DARI KAMI ****
Suicide
Hatiku berbisik lirih di tengah kesunyian malam yang semakin
menggila memeluk erat kesendirianku kali ini. Ya, setidaknya
aku masih hidup kali ini. Meski hanya sekadar untuk tengadahkan
kepala yang ada di atas leherku.
Malam yang bagiku maha luas dan yang selalu digambarkan banyak
menuntut kesunyian yang tergaris dalam makna ketersisihan,
kini tak lagi mampu menyeruak, membekukan ribuan buluh nadi
di tubuhku. Dingin itu tiada pernah lagi kurasakan di
permukaan kulit yang membungkus tua nyawaku; nyawa yang
berdiri sebagai alasan terbesar bagiku untuk tetap di sini,
menanti fajar yang akan membunuhku kelak.
Sesekali ku coba serukan pada hati kecilku bahwa aku tak
mampu menguraikan arti hidup yang lelah ku jalani hingga kini,
lantas kenapa aku masih terus hirupi sesak udara di tengah usia
yang kian menua. Bukankah semua kebodohan dan khilafku ini
telah cukup untuk dijadikan-Nya alasan kirimkan malaikat
padaku, lalu dengan ketajaman matanya, mencabuti nyawa yang
tercecer di setiap sendi tulang rapuhku. Mungkin saat itu
aku tak akan mampu menangis, tak mampu kiaskan kesedihanku
lewat kata atau pun raut muka, karena sekali lagi, aku
telah lupa dengan semuanya. Aku bagaikan tubuh tanpa hati,
tak mampu merasa, tak lagi dunia buatku tergoda.
Wahai engkau kidung-kidung yang mengantarkan kelelapan sang kala, jangan pernah lagi kau lantunkan barisan irama sumbang itu dalam rona bait-bait gelap, irama bersajak rintihan masa laluku. Mungkin aku hanya tak inginkan lagi masa itu kembali menghantui otakku yang lemah ini, karena di sana masih tersimpan harapan untuk anak bungsuku, satu-satunya sandaran imajiku, agar tiada pernah dilakoni olehnya sebuah cerita yang maha kejam, yang telah membunuh aku, ayahnya, secara perlahan-lahan dan begitu menyakitkan. Sekiranya ratusan pedang tumpul bergerigi yang ditancapkan di tubuh lalu secara bersamaan dan pelan-pelan dicabut seraya digoyang-goyangkan ujungnya, rasa sakit itu tiada sebanding dengan derita yang merangkulku. Tak pernah terkiaskan dengan seribu doa-doa yang kerap terucap dari mulut yang hangus terbakar jilatan api kemurkaan, sebuah neraka yang telah diciptakan manusia di dasar hati mereka.
Jika hanya untuk sebuah keabsahan tanpa ujung, kenapa hidupku ini terus kuperjuangkan? Untuk apa usia ini kulalui layaknya meniti sehelai bayangan samar, tanpa sebuah kepastian, tanpa arti. Dan jika tak kurengkuhi sisa helai nafasku, aku pun tak ingin bertanya-tanya pada takdir tentang siksaan yang kujalani kelak, sebagai sebuah imbalan manis atas deru emosiku. Aku merasa semakin jauh dengan diriku, meski tak kulihat segumpal dosa yang menghalangi langkahku. Apakah aku hidup, atau mati, atau tengah berada di batas hidup dan mati, terdampar di dunia yang kosong tak berpenghuni, sendiri, sepi, lalu sedikit demi sedikit menghilang seperti asap yang mengepul di antara sekat-sekat nuraniku. Kosong, kata yang selalu ingin kuperdengarkan pada mereka, mimpi yang fatal, tak bermoral, namun terasa kenyal, seperti pelacur binal, yang telanjang di atas bantal. Tampak menggoda, dengan nafsu yang menggelora. Menggelinjang pasrah, tak kuasa luapkan amarah, berteriak dan mendesah, lalu tergolek lemah.
Itulah mimpiku, mungkin sebuah cermin keresahan yang tertuang dalam imajinasi tanpa arah. Seperti semuanya, aku yang seakan lemah tanpa harap, mencoba lupakan angan itu, hingga tak harus kudapati kembali ingatan atasnya, meski telah terbias sedari aku bergelayutan dalam rahim Ibuku.
Adhany Hakim
.....Keberuntungan
.....Kemalangan
.....Kebahagiaan
.....Kesedihan
Dalam kesedihan,dalam kebahagiaan,dalam keberuntungan, dalam kemalangan,dalam keberuntungan,dalam kesedihan,dalam kebahagiaan,dalam kemalangan,dalam ke..,dalam ..,dalam...
Dalam..
Dari..
Perenungan
Penantian
Kesendirian...
Hanya gaung dari teriakanku sendiri yang kudengar,
kemana semua orang?
Sejauh mata memandang sejauh itulah perjalanan, dan sejauh ini hanya penderitaan
Pintu-pintu kembali ditutup
Haruskah aku kembali mencari
Haruskah makna mengurai arti
harusnya
Masih tentang makna dan arti
Tunjukkan!!
Kau bekali aku kuku, gigi, dan pengindera
Masih saja...
Kenapa tak kau tunjukkan bagaimana aku harus hidup
Dalam kekuatanku ada kerapuhanku
Dalam pengelihatanku ada kebutaanku
Dalam hidupku menyembunyikan kesekaratanku
Aku hanya tak ingin kerinduanku padamu mengantarkan aku lebih sesat dan menjauh darimu
Tunjukkan padaku bagaimana aku harus hidup
Lee Hay
Jo-To-San Inn, April 07
ANyelir JINGga
Matanya membekas di mataku. Bibirnya yang kukulum mengenyahkan ragu yang membelenggu. Di sudut, aku temui dia mengulum senyum pahit yang menggigit. Ia lari dalam dekapku. Buatku tersadar, ia bukan milikku. Kebersamaan selama ini hanyalah mimpi.
An, kau kabut yang tak tersentuh. Kau datang penuhi relung setiap ruang kosong yang hadir. Warnai pagi yang beku dengan putihmu. Pergi saat hati ingin milikimu. Apa maumu tak ada yang tahu.
Saat itu aku melihat sudut matamu yang basah, sebutkan satu nama yang pernah kau cinta. Di dekapku kau tumpahkan aliran hangat yang bagiku itu adalah aliran kasih tak terperi. Lalu kau pergi.
Kamu memang kabut. Yang menutupi pandangan keindahan pagi. Yang mendinginkan kehangatan pagi. Yang basahkan udara untuk kuhirup. Kau racun. Tapi ku tetap suka. Menghirupmu.
“Aku bukan mentari, Re. yang kan hangatkan di pagi yang kau jalani. Aku kabut seperti yang telah kau cipta di setiap langkahmu. Ku tak bisa senantiasa temanimu seperti angin yang kau sukai, serta debu yang kau cintai. Aku kabut yang senantiasa datang dan pergi sesuka hati. Aku kabut yang senantiasa basahi paru-paru lalu membunuh. Aku racun. Racun yang cantik. Terlalu cantik untuk dimengerti.”
Selalu itu saja yang selalu kau ucap tiap kuminta kau tinggal di sisi. Temaniku dalam kesepian yang membelenggu. Temani hariku yang tinggal satu-satu.
An...
Kenapa kau kabut? Kenapa kau bukan udara? Yang kan senantiasa suplai oksigen dalam darahku, mengalir di setiap rongga hidupku. Apakah karna aku bukan pagi yang bisa menerima kehadiranmu? Atau aku terlalu lacur untukmu? Yang selalu menghirup wangi ... di tubuh mawar-mawar berduri. Beritahu aku An...
“Aku berubah bukan karna cintaku pada pagi. Bukan. pula tak ada cintaku padamu, Re. Namun kau sendiri yang mengaburkan pandanganku, menjadikanku kabut yang rapuh. Mudah lenyap saat kau mencoba menggenggamku. Aku kabut karena kau bukan ruang yang kuharapkan.”
Setelah itu kau akan pergi ke gunung-gunung tuk berkejaran dengan pinus yang manjakanmu, dengan belaian rumput basah yang menenggelamkanmu dalam cinta, dengan tanah merah yang kan mendekapimu dengan hangat serta tetesan embun yang buatmu tersenyum.
An...
Anyelir Jingga...
Aku tak mau ucapkan kata pisah, karna kita tak pernah berjumpa. Anggap saja demikian. Aku tak mau pergi, karna ku tak pernah datang pagi ini. Biar saja begini. Aku tak akan mendekapmu, karna ku tak pernah milikimu. Bukan ku merayu.
Hari selalu berubah hingga kau mau merubah kabutmu menjadi udara pagi bagi Re yang lain. Aku tetap di sini, di dalam gundukan tanah merah ini, yang siap mendekapmu, jika pagi tak lagi temuimu. Dan kau serta merta menaburi gundukan ini dengan putihmu yang suci, meski hati tak kau beri. Gundukan ini tetap kan dampingi hingga tetesan embun tak lagi banjiri sudut matamu.
19.18
Room, 030407
eLCeeS
Kembali Pada Sebuah Cinta
Kembali pada sebuah cinta. Aku
Menitipkan daun murbei ini untukmu
Kusisipkan setetes embun pada urat-uratnya
Untuk mengingatkanmu, pada geliat tanah
Yang menjalari darah lelakiku
Aku mengingatkanmu
: akan angin dan daun kering yang bercumbuan
serupa lonceng jam 12 malam, awal penyatuan
mimpi-mimpi kita
September 2006
Dody Kriswaluyo
Intermesso Dalam Renungan
Sendiri dalam luka penuh cambuk
Eluhku mengering perlahan
Mencoba raih jemari kasih-Mu
Ku rasakan sendiri nikmat menyepi
Melambungkan angan hingga titik akhir
Pun terasa damai di hati
Walau aneh mengusik mimpi tiap hari
Aku tlah kebal oleh kegembelan duniawi
27 Nov-17 Des ‘06
M1cky
Mikaart07@yahoo.com
Merana
Sulut nyala api
Dengan segala kesombongan
Serta keangkuhan diri
Persetan dengan fana
Semua hanya kepalsuan
Yang kuulihat
Ulat menggeliat dengan tawanya
Sendiriku
Meranaku
07.05
Son river, 14 April ‘07
Nyam2
A Great Beat
(untuk *Setangkai Melati )
Menyayangi dengan bergerilya? Ketahuilah bahwa tak semua rasa kesayangan dapat langsung kita ungkapkan untuknya. Ia yang kita sayangi, yang melebihi sayang kita kepada Tuhan dan Rasul-Nya, yang selalu memujanya tiap bulan menggantung, yang tak lepas membayangkannya, yang mengharapkan mimpinya, yang selalu mengejar cahayanya, hingga memanggil-manggil jiwanya setelah mentari anjlog, yang memercayainya dan meyakininya hingga ajal.
փ
ჰჰ
տ տ
უ…
Sebagian dari rasa yang amat itu, mungkin hanya kita ungkapkan melalui gerilya, mengendap-endap, muncul tak muncul, kebelet nggak kebelet, asal kita suka, asal kita bahagia, tak tahu berbuat apa. Subhanallah… Hanya berbekal tawakkal sajakah? Tak ada kasih tak berkorban. Terlebih nyawa sekalipun.
Tentunya kita tahu bahwa kegerilyaan itu tak selamanya membahagiakan, menyenangkan, membuat kita selalu tersenyum lebar atau sekedar mesam-mesem, hingga Malaikat Rokib dan Malaikat Atid pun meringis. Pasti ujung-ujungnya hati kita harus mengalami lachrymose, tersayat, memerih, mengaduh, menyesal, yang tak bisa terhapus layaknya goresan pensil disapu karet penghapus di atas kertas. Yah, walau firman-firman Allah tetap kita kecapi untuk melupakan rasa itu sebelum berangan malam, saat hati yang mengujung, meruncing, kala otak dihantuinya, namun pasti dan tetap tak terhapus kegundahan itu, yang masih bergentayangan di dalam isi kepala, yang entah dengan apa penyelesaiannya, kita hanya terus berpikir, merenung, terlebih melamun mematung seperti Joko Dolog, yang segalanya tak terjawab.
Ada baiknya jika kita memetik buah zaitun, menaruhnya di lidah, mengecapinya, lalu menelannya hingga usus menggiling. Mengungkapkan berbagai rasa keindahan itu dengan tidak bergerilya yang seolah kau sedang dalam peperangan. Walaupun kita terlalu menyayangi dan terlalu memikirkannya. Tetapi bersabarlah dengan hati putih, ikhlaskan segalanya. Pahamilah segalanya hanya dalam ikhlas.
Aku memercayaimu, yang tak pernah mengkambinghitamkan kasih sayang hanya untuk kau.
Hanya karena cahayamu.
12.26 am
Friday, 11 Rabiul Awal 1428 H
relleT
*inspired by Danarto
Doa Seorang Pendosa
Tuhan terima kasih...
Engkau telah hadirkanku
Tuk sambut tahun yang baru ini
Tapi...
Aku tau masih banyak tantangan di depan sana
Tantangan yang selalu ada disetiap aku melangkah
Tantangan yang harus kulalui
Aku tak berharap agar aku,
Kau jauhkan dari godaan!
Tapi aku harap kuatkanlah aku
Kuatkan tuk hadapi kenyataan!
Ku tahu...
Kau pasti kan menuntunku
Tuk slalu berjalan lurus sesuai rencana-Mu!!
03:36:56
Dwipa 010107
Sayatan Sayatan Tajam
Burung Nuri itu tertawa ngakak
Akan nasib kita.
Di mana luka-luka itu buramkan mata
Dan menyeret-nyeret nyawa yang masih tengkurap lemah.
Mimpiku sirna
Hanya ada tawa renyah sang penguasa
Nyawaku, arwahku merajuk dan menari
Mencari belatung-belatung yang masih
Terkurung dalam kebebasan tak pasti
Mencari jawab atas arti
Kebebasan dan kemerdekaan.
Soem Anna
SR’04
Sekotak Permen
Kamu...
Lama kutunggu
Kamu...
Udah janji malam itu
Bahwa kamu...
Ngajak nonton hari sabtu
Tapi mana?
Aku udah nunggu lama
Batang hidungmu nggak nongol juga
Kamu pasti nggak tahu
Aku udah habis makan permen berapa
Semenit... dua menit...
Emang nggak terasa
Tapi tiga puluh menit?
Itu udah lumayan lama
Satu jam masih kutunggu
Dua jam aku pergi berlalu
Kar’na sekotak permenku
Habis buat nungguin kamu
21.52 WIB
3 Desember 2002
Imey
PBSI ‘03
Kita Manusia
Kau, kamu, dan kalian
Bagiku Cuma sekedar
Bajingan!
Kau setan
Kamu korban
Kalian bangsa kebangsatan
Karena kita sama-sama manusia
Mbah ‘05
poet_aholic@yahoo.co.id
Suara Itu...
Keindahan suara yang meluncur dari mulut setiap saat dapat membius pendengarnya. Nada tinggi dan nada rendah yang sangat kontras akan terdengar serasi dan memesona jika terucap dengan kontrol yang baik. Nada-nada itu akan menjadi suatu harmoni seperti nyanyian penyejuk jiwa.
Nada tinggi seringkali membuat orang tercengang dengan lengkingannya yang menyayat hati. Semakin tinggi suaranya, akan membuat hati semakin merinding. Mencekam, seperti lamgit hitam. Ketika nada tinggi itu merendah, segala kerendahannya akan menerjang malam yang mencekam. Nada rendah adalah cahaya kedamaian yang tak padam oleh hembusan waktu. Suaranya senantiasa menerangi sudut-sudut kepalsuan yang menyesatkan.
Suara tinggi suara rendah. Sepasang namuun tak akan pernah bersanding. Suara rendah berpijak di bumi, suara tinggi menari di langit. Bumi mengandung jiwa, langit mengandung raga. Di mana mereka berada?
Suara tinggi suara rendah, temukanlah di dalam suara hati.
01:09
6 on des
Rindu Cahaya
Kesalahan demi kesalahan berlalu
Disapu redupnya cahaya jiwa
Hitam semakin hitam hariku
Tanpa tawa hanya tangis jiwa
Melihat jauh ke belakang
Semua telah usang
Hari hari indah yang dulu menjelang
Kini mulai kurindukan
Aku terjebak di hitam putih
Tanpa warna tanpa cahaya
Terjerat kemilau masa silam
Tanpa langkah Hanya angan
Diantara terbit dan tenggelam
Diantara dosa-dosa yang semakin menjulang
Ku di sini sendiri
Menanti kedatanganmu wahai dewi cahaya
Tuk sinari jiwa ini
Tuk tumbuhkan lagi asaku
Tuk mulai melangkah
Meninggalkan dosa dan kenangan indah masa lalu
Di sini aku hanya bisa menanti
Tanpa sanggup tuk mencari
Apakah kamu akan datang???
Mungkin kamu tidak akan datang!!!
June 05th 2005
Fandy Linggo Djiwo
British Youth ‘04
MUQATTA’AT 39 *)
SATUKANLAH aku, wahai Yang Maha Tunggal, dan aku bersaksi dengan sepenuhnya bahwa Tuhan adalah Satu, melalui sebuah perjanjian rahasia di mana tak satupun jalan menyediakannya!
Akulah kebenaran, dan kebenaran diberikan pada mereka yang terpilih, dari dasar pribadinya, dan tidak ada lagi pemisahan di antara kita,
Inilah kejernihan yang terpancar, berkilauan bagai percikan kilat.
AL HALLAJ
*) Dalam Diwan Al Hallaj
Diposting oleh GERILYA di 01.52 0 komentar
Rabu, 11 April 2007
Gerilya Volume 3

The Black Cat is back!!!
Diawali dari sekadar iseng sampai pada detik ini, GERILYA dari edisi ke edisi semakin mengukuhkan namanya di peta ajang kreativitas, khususnya dalam hal ini tulis menulis. We all the crew who will stay true.
Buktine lo, perhatian dan partisipasi dari teman-teman terus mengalir, suwon yo rek!.
Tapi, ada satu yang pengen kita sampein kali ini.
GERILYA lo, hanya baru dapat kritikan-kritikan lisan, bukane nyombong lo ya? ‘cuz seperti pepatah bilang, “lebih baik nyombong dari pada minder”. Jadi gini, dari teman-teman pembaca, apa ga’ ada yang mo nulis kritiknya? Ngajak diskusi tentang karya ta? Bikin seminar kecil-kecilan ta? Biar apa yang kita lakukan selama ini lebih mantab kale’!? Hyuk! Yooo.. Pokoknya sampe’ kapan pun, yang semacam itu masih ditunggulah. Kita lo juga bakal dengan berani mempertanggung-jawabkan tulisan-tulisan kita. Laapo wedhi?!!
Api ini akan tetap membara.
Dengan tidak melupakan semangat dan komitmen awal kita, GERILYA, Berjuang Independen. selain sebagai sebuah wadah kreasi, rekreasi dan pembawa pesan (messenger), kita juga menyampaikan isu-isu terkini. Kita masih akan terus bereksperimen dan mencari bentuk yang sebisanya dan sedekatnya dapat mewakili masyarakat penikmat GERILYA.
SLIK!
HAHAHAHA...
Perjuangan tak pernah berakhir!!!
Cursing Aphrodyte
DAMN YOU Aphrodyte!
You bare a son that drives me crazy!
He walked in that night into my chamber
Whispering something, interrupting slumber
HE SAID :
“With this kiss I give to thy bosom,
thou shall not be lonesome.”
Then he kissed my bare chest
AND DAMN! That was the best
Starza
English Literature ‘04
My Black Naked Rose
Deru deras sebening kristal, melukis lekukan kabut yang kau pasang
uap lepas tersengal-sengal, menghias permukaan lembut yang kau pajang
hawa panas terbanting kental, mengais deburan laut yang kau tantang
gila ganas terpental-pental, pemuas hamparan rambut yang kau pandang.
Air mengucur
Air turun
Air terjun
Air hancur...
Semua telah keluar
Nyanyian koar-koar
Iman liar
Tak berpijar
Wewangian kuburan hanyut dalam semerbak bunga malam,
Hiruk pikuk asap kamboja membatik dalam bujur kamar nafsu.
9.17 PM
Des, 16th ’06
relleT
Satu Satu Tujuh
Gemerlap meriahnya pesta di tahun baru
Awal petaka tanah kelahiranku
Aku mendengar jerit dan tangis
Saudaraku di dalam sebuah pesawat
Selalu dan selalu bangsaku cacat
Dalam sejarah. Menghancurkan
Cita-cita membawa kisah
Air mata... Air mata...
Cukupkah Tuan-tuan hanya duduk-duduk saja
Ataukah hanya ucapkan belasungkawa
Aku bosan, aku muak!
Kapankah nestapa bangsaku ‘kan berakhir?
Mungkinkah Tuhan sudah mulai murka
Ataukah umatnya yang tak lagi mengakui Tuhannya!
Bumi Pertiwi kini menangis lagi
Cobaan dan penderitaan datang silih berganti
Banjir dan tanah longsor selalu menghiasi
Mayat-mayat berserakan, bangkai pesawat
Seakan-akan lemparkan amarah
Menangis negeriku
Menjerit Indonesiaku.
Fans Fals ‘04
Sungguh Benar
Sesungguhnya...
Sesungguh-sungguhnya yang sungguh-sungguh
Tak lebih sungguh-sungguh
Dari yang benar-benar tak sungguh-sungguh
Dari yang sesungguhnya
Sebenarnya...
Sebenar-benarnya yang benar-benar benar
Tak lebih benar-benar benar
Dari sungguh-sungguh benar
Dari yang sebenarnya.
070107
00:15:56
Dwipa
Aku, kamu, diriku dan dirimu
Aku adalah diriku
Kamu bukan diriku
Itulah aku.
Kuelak dengan segala usahaku
Benci, jijik kutatap wajahmu
Maukah kau merobek bayangmu
Mati lebih berarti bagimu
Percuma cegah kau dengan segala susah
Semua persetan dengan sumpah serapah
Lupakan semua sesalmu
Tak usah kau risau
Apapun itu bentuk punggungmu
Ku tahu di sana kau simpan ala kisah
S. H. W.
Kau
Iseng
Iseng iseng
Iseng iseng
Iseng iseng
Iseng iseng
Iseng yah ternyata cuma iseng
(Da’an)
Lonjrot
Ketika aku berdiri
Aku melihat seekor tikus sedang bercinta
Inginku seperti dia
Menikmati walau dilihat banyak orang
Tak tahu mana rasa mana dosa
Tikus yang lonjrot
G46uK
Ser ‘04
Surealisme Cinta
Mengimani secuil syahwat yang ranum
Aku memasuki lorong pendiamanmu, sebuah episode
Kering dan petak-petak sepi
Seribu dingin luruh bersama gairah runtuh
Katakanlah, bagaimana keresahanku bercampur
Dengan kegelisahan para pemadat
Aku sayat perutku, serupa mimpi patung-patung
Dan malaikat bersayap perang tanding
Tapi biar aku mengintipmu, revolusi bunga
Di tengah sesembahan tanpa rupa
Sebab, ruang yang kuimpikan telah musnah
Mataku tertutup, kemesraanmu lebih ganas
Dari sengat matahari.
Aku kembali pada rahimmu, jalan
Setapak nanar, tempatku tumbuh mencemburui
Kerinduan. Kubayangkan ilusi mayat mabuk terbang
Atau gedung-gedung menghardik tidurku, fantasiku
Bergayut dengan pohon tumbang. Sebentuk surealisme cinta
Yang patah atau kuburan kupahat dalam bayangan
Putih. Sebab selalu kuimpikan
“Tak ada cinta untuk esok hari”
Januari 2007
Dody Kriswaluyo
Hancur
Rampungkan semua ayat-ayat yang kau baca
Jika seterusnya kau tak lagi mampu
Nikmati sajak itu meski hanya sejenak saja
Maka tetapkan detak hatimu untuknya
Hanya untuk sebuah kenikmatan sekejap
Dirimu akan datang ke sana bersamanya
Beserta ribuan bayangan dalam angan
Lalu dengarkan buai angin neraka itu
Yang begitu akrab terdengar oleh telingamu
Terimalah semuanya dengan hati tertawa
Teriakan itu akan terasa begitu sumbang
Saat tak lagi kau jumpai di dalam kerapuhan
Diamlah!
Jangan lagi mencoba dekati langsiran hati
Yang dalam dongeng selalu terkisah indah
Teriakkan saja parau dan galau suaramu
Di puncak menara suar keheningan dunia
Niscaya mereka akan mencoba temukanmu
Meski telah hampa, tanpa sehelai nyawa
Surabaya ‘07
Adhany Hakim
Membelah Diri
Kali ini biarkan aku mempersilahkanmu masuk ke duniaku, dimana ruang dan waktu tak lagi berarti. Ujung ke ujung, atas dan bawah, rapi dan kacau. Dalam kemanusiaanku atau kebinatanganku, bebas kendali hanya itu. Dalam kekayaanku atau kemiskinanku, aku tak lagi peduli. Kepandaian atau kebodohan bukan bagian dari diriku yang ada hanya kebenaran dan kemenanganku. Dan jangan pernah mempertanyakan tentang keteraturan kepadaku, aku tak pernah mengenal kata itu.
Hari ke hari, waktu ke waktu seperti inilah perjalananku, entah ini akan kusebut keberhasilan atau kemunduran,
hidup untuk mencapai kehidupan, atau hidup hanya untuk menunggu kematian, tak ingin kutentukan semua itu, tak ada untungnya, pada akhirnya semua itu hanya sebuah istilah.
Hanya saja aku telah melewati begitu banyak hal dalam hidup, ombak demi ombak, badai demi badai, perang-perang itu, kemenanagan-kemenangan itu, kehebatan-kehebatan itu. Yah.. sekali lagi, kehebatanku.
Karena aku tak pernah kalah, aku tak pernah jatuh, aku tak pernah..., maksudku aku tak ingin pernah.
Semua yang ada padaku haruslah hal-hal terhebat yang pernah didengar orang. Jika ada satu hal saja yang tidak hebat dariku, maka takkan kubiarkan mereka mendengarnya, kalau perlu akan kusumbat kuping mereka, karena aku tak pernah layak untuk disebut tidak hebat.
Jika kau berbicara menggunakan mulut dan lidahmu, aku hanya akan berbicara dengan kesombonganku, jika kau berjalan menapak bumi, aku sudah tidak pernah lagi menginjak tanah kotor bumi ini. jika kau berteman dalam rangka kau peduli, aku hanya butuh teman untuk mengelap bokongku, persetan dengan kepedulian.
Tak pernah ada ikatan emosional dalam diriku, ikatan semacam itu hanya untuk anak ingusan, aku hanya mengenal kata emosional ketika aku harus mendaratkan Iron fist-ku ke wajah-wajah tolol mereka.
Dengan begitu, maka mereka juga akan tahu bahwa aku exist.
*) If you’re free you’ll never see the wall
If your head is clear you’ll never free fall
If you’re right you’ll never fear the wrong
If your head is high you’ll never fear at all
***
Matahari meredup, bulat keemasan di ujung barat.
Senjakala, tawarannya selalu saja begitu dramatis.
Kekosongan ini kembali menyergapku ... Arghh!!
. . . kosong . . . . +#0@3&$)%. . . .kosong . . . . . .
. . . . . . #%?@0?. . . . . . . . . . . kosong . . .
!!!!!!!!!!!!! . . . . . . @#8]$8#?? . . . . . . kosong!!!
. . . . . . . . . . . .What The Fuck !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Sementara kakiku masih terus mengayun.
Tak ada yang baru dalam seharian ini, seperti kemarin, seperti kemarin lusa, seperti seminggu, sebulan ,setahun, atau mungkin seabad yang lalu, sama, labirin yang sama.
Dimulai dengan senyum suram sang fajar, kemudian roti yang sama, senyum-senyum palsu yang sama, sampai di ujung hari sang malam akan menutupnya dengan mimpi-mimpi yang sama, dengan hantu-hantu yang sama pula, semua hanya rutinitas, semua melebur kembali, kekosongan setelah kekosongan.
Sang waktu hanya akan berjalan dengan lambat, Setelah itu tempat ini akan semakin menyempit dan menyempit saja,
yah…, aku tahu, disini sempit, bahkan terlalu sempit,
dunia memang terlalu sempit untukku.
. . . kosong . . . . +#0@3&$)%. . . .kosong . . . . . .
. . . . . . #%?@0?. . . . . . . . . . . kosong . . .
!!!!!!!!!!!!! . . . . . . @#8]$8#?? . . . . . . kosong!!!
.. . . . . . . . . . . .What The Fuck !!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Aku benci berharap, tapi aku ingin tahu apa yang akan dibawa oleh si angin senja kali ini?
Aku berharap ada sesuatu yang baru kali ini, mungkin hanya satu, satu saja, atau mungkin beberapa, karena disini semua telah menjadi begitu usang. Biarlah kali ini aku kembali menaruh harapan, tapi kali ini terakhir, benar-benar untuk yang terakhir kalinya.
Udara mulai terasa dingin di luar sini, masih seperti biasa, orang-orang mulai menyalakan lampu, orang-orang mulai berkumpul mengelilingi perapian di dalam rumah mereka, dengan begitu mereka pikir mereka bisa melawan hawa dingin ini. Entah apa yang sebenarnya ada dalam pikiran mereka, aku tak mengerti, dan tak pernah ingin mengertinya. Sepertinya mereka begitu takut gelap, dasar pengecut, mereka memang pengecut yang takut pada dingin dan kegelapan.
Tapi akulah si kegelapan, aku hanya hidup dalam kegelapan, Sebenarnya disinilah, di kota kegelapan inilah mereka menguburku, hingga takkan ada seorang pun melihat, hingga tak seorang pun datang menghampiri.
Di tempat inilah, tempat dimana sebuah lubang gelap dan besar di sebuah kota, kota yang terlanjur kusebut kota laknat, disinilah aku berkuasa.
***
Langkah kaki terus membawaku semakin jauh, tiba di pinggiran kota aku bertemu seorang Koboi tua, dia telah pulang dari penggembalaannya, kulihat dia sedang mempersiapkan diri untuk peristirahatannya.
tapi kenapa? Apakah sang senja pula alasannya?
Aku menatap jauh ke dalam pandangan matanya, masih bisa kutemukan jejak-jejak mata elang disana, namun waktu telah mengikisnya, yang ada kini hanya pandangan sayu.
Sesuatu mengatakan padaku, dia begitu lelah, dia pernah kesini sebelumnya dan kini dia kembali lagi kesini, hanya berputar-putar, dan aku tahu dengan pasti, sekarang hampir tiba waktu itu untuknya.
Dia menyapaku “anak muda..,” (kata-katanya terhenti sejenak), dari situ aku tahu, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, ternyata dia telah begitu mengenalku.
Dan aku hanya berdiam diri, hanya terus saja menatapnya.
Lalu dia melanjutkan kata-katanya,
“...pengalaman akan membawa kebijaksanaan, Hmmm..!! Apa kau benar-benar menikmati waktumu?!!”.
dengan nada mencemooh, kata-kata itu meluncur dengan mulus di sela-sela nafas tuanya.
Dan tanpa menunggu jawaban dariku, dia masuk, meninggalkanku begitu saja di depan pintu rumahnya.
. . . . . . . . . . . . . . . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?
. . . . . . . . . ? ? ? ? ? ? ? ? . . . . . . . . . .
...Sejenak aku tersentak oleh kata-kata pria tua itu.
Damn..!! lalu aku menjawab dengan meneriakinya.
“yeah.., old man, say what the hell you say!!”
Kurasa aku telah membuatnya teringat akan masa-masa kejayaannya, sementara hari ini aku dengan tubuhku yang masih tegap, otot-ototku yang masih kekar, kulitku yang masih kencang, mataku yang masih setajam mata burung Condor, dan semua dalam diriku yang masih dalam keadaan prima. Pastilah semua ini membuatnya iri, karena inilah yang kusebut dengan kemilau masa mudaku, masa keemasanku.
Masih dengan belati di pinggang, aku kembali melenggang.
“Kenapa hitam, kenapa putih, bagaimana dengan abu-abu?
Kenapa salah, kenapa benar, kenapa, selalu saja, kenapa??”
Aku mendengar suara-suara itu lagi, pertanyaan-Pertanyaan itu lagi, tapi yang ini begitu jelas.
Terdangar dari balik tembok dingin berjeruji, inilah cerita tentang seorang pria dengan rantai dan bandul besi di tangan dan kakinya.
Untuk kesalahan yang tak pernah dilakukannya, semua pertanyaan itu memang patut diutarakan.
Sekali lagi aku harus menatap wajahnya.
Kulihat setangkai mawar yang masih segar ditangan kanannya, dengan beberapa duri tajam di tangkainya, dia tetap menggenggamnya dengan erat.
Seketika itu pula ia tersenyum kepadaku, tak ada yang ganjil dalam senyumnya, sangat tulus, senyum itu pasti datang dari hatinya yang terdalam, aku bisa merasakannya. sampai pada kesimpulan terjauhku, aku bisa mengerti...
Bahwa tembok ini, jeruji ini, rantai dan bandul besi yang mengikat tangan dan kakinya, bahkan raganya pun tak akan mampu membelenggu jiwanya yang bebas, dia tetap burung yang terbang mengangkasa, dia tetap awan putih di musim semi.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, dia akan datang sekali lagi, dia yang selalu menghantuiku dalam mimpi-mimpi kelam. Dia yang meyakinkan aku, bahwa bersamanya aku akan terbebas dari segala kendali, yang belakangan ini telah kusadari, justru dialah yang selama ini mengambil alih atas kendali diriku.
Kurasa sekarang tibalah waktunya, aku harus mengambil keputusan malam ini juga. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan bertemu dengan pria itu kali ini, aku telah demikian terusik, aku sudah muak dengan ulahnya, bahkan begitu nyata dia kerap kali menampakkan diri dalam cermin.
Malam ini, di jalanan ini, aku menemuinya, segera saja aku mendekatinya, tanpa banyak bicara aku mendaratkan beberapa kali bogem iron fist-ku padanya, tepat di wajah, dan sekali lagi, kali ini di mata kirinya, terus dan bertubi-tubi, tanpa ampun. Dan dia pun lari, tunggang langgang, saat aku memerintahkan dia untuk lari, dia lari sekuat tenaganya.
Dan begitu dia menolehkan wajahnya padaku sekali lagi, kali ini peluruku yang membuat lubang di kepalanya.
***
Fajar menyingsing, sinar Mentari lembut mengusapku, perlahan aku tersadar kembali, kubuka mata dan mentari menyambutku dengan senyuman hangatnya.
Aku sangat bersyukur, setelah untuk waktu yang entah berapa lama, aku kembali bisa merasakan kenikmatan ekstase ini sekali lagi dalam hidupku.
Tentang pria yang telah kubunuh semalam,
inikah keberhasilanku? Tidak, inilah kemenanganku.
Jauh dalam diriku, saat ini aku bisa merasakan arti sebuah kemenangan yang sesungguhnya.
Tanpa penyesalan, hanya rasa lega,
Dan tak ada tangisan, hanya lelehan air mata.
hari baru ini telah benar-benar tiba.
Aku terlahir kembali.
*) If you’re free you’ll never see the wall
If your head is clear you’ll never free fall
If you’re right you’ll never fear the wrong
If your head is high you’ll never fear at all
*) lirik lagu , Exploder by AUDIOSLAVE (:Sumber Inspirasi)
Krian, 070107
Lee Hay
Aku, Kau, dan Kereta
Aku terbangun dengan wajah yang masih memucat. Kutahu hal itu karena aku sempat melihat pantulan wajahku di cermin yang terletak di seberang ranjang. Tubuhku terlonjak begitu kudengar ponselku berbunyi. Ternyata hanya sebuah sms yang masuk, bukan dering telpon dari temen-temen yang biasanya butuh curhat atau mungkin sekedar ngobrol. Sempat kulirik jam digital kesayanganku yang berdiri tenang di atas meja rias. 01.32... ah, hari masih terlalu dini.
Kubiarkan ponselku tergeletak di sisi kiri bantal ularku karena aku masih sibuk menenangkan diri akibat keterkejutan tadi. Itulah kebiasaanku. Susah buatku untuk tidur kembali jika sudah terbangun. Akhirnya setelah kuteguk segelas teh dari kulkas kamar, kuraih ponsel yang tadi sempat kuabaikan.
Pio... saat ini aku berdiri di atas kapal! Dengan orang-orang yang sama... juga pemandangan yang sama. Tapi tak ada yang bisa merasakan sakralnya SELAT BALI, sama seperti saat kurasakan sakralnya STASIUNMU...
Aghhh!!! Aku selalu, selalu, dan selalu tak bisa membendung hujan di mataku saat kutemui sesuatu yang membawa perasaanku terbang ke pulau itu.
Libra, tak seharusnya kau membuatku merintih di pagi buta ini. Kenangan-kenangan itu... dan kerinduanku pada pulau mimpiku telah mengoyak-ngoyak perasaanku dan mencerai-beraikan jiwaku. Masih terkenang semuanya, delapan tahun silam. Begitu utuh dan gamblang. Bagaimana kita berjumpa di sana, di bawah air terjun untuk membuka perasaan kita yang ternyata sama. Tapi itu tidaklah berlangsung lama, setelah dua tahun kemudian kuputuskan untuk menghentikan episode kisah kita karena kuatnya sebuah dogma yang berdiri di antara kita berdua.
Tapi mengapa hingga kini kau tetap tak mau beranjak, untuk pergi dari hati yang kau anggap bagai mataharimu di kala siang, dan menjadi bintang yang paling terang di antara ribuan bintang yang menghantarkanmu pada lelapnya malam.
Pagi ini... kulangkahkan kakiku dengan tergesa memasuki ruang tunggu setelah kubayar karcis peron di stasiun kesayanganku. Yaaah... Seperti mengada-ada bukan jika stasiun inilah yang bisa menenangkanku saat ku rindu akan pulau mimpiku. Akupun maklum kalau kau, bahkan teman-temanku, menganggapku bodoh karena kubuang-buang waktuku hanya untuk duduk berjam-jam demi menunggu datangnya sebuah kereta yang akan pergi ataupun menuju ke arah timur. Padahal, biasanya aku sangat perhitungan sekali dengan tiap menit yang berlalu selain sesuatu yang mengingatkanku akan Bali. Toh akhirnya kalian tahu betapa sakralnya stasiun ini buatku. Betapa hebatnya stasiun ini, seakan-akan di dalamnya terdapat kekuatan magis yang entah mengapa bisa membuatku bersemangat dan kembali tersenyum kala jiwaku rapuh.
Inilah kegemaranku. Duduk di kursi yang terletak di pojok paling kiri dan menghadap ke arah utara. Dan itulah tempat favoritku. Cukup dengan sebuah discman dan sebuah novel atau bahkan terkadang album kenanganku akan pulau itu... aku bisa cukup sabar menanti datangnya kereta. Setelah kereta itu pergi, barulah aku kembali menuju rumah tempatku biasa berteduh dengan tenang.
Beberapa bulan kemudian, kuterima sepucuk surat yang datang menjelang senja. Awalnya, perasaanku biasa-biasa saja. Karena korespondensi adalah salah satu kegemaranku.
Kubaca halaman depan sampul surat itu. Jelas sekali surat itu tertuju untukku. Kubalik sisi halaman yang lain, mencoba mencari tahu siapa pengirimnya. Tapi halaman itu kosong. Tanpa pikir panjang segera kurobek bagian tepi sampulnya dan kubaca isinya yang singkat itu.
Sayang…
16 Juli nanti, kutunggu kau di tempat kesayanganmu!
Oh, mungkin orang iseng, begitu pikirku. Karena kadang ku sering dapat surat asing berisi rayuan-rayuan gombal sepanjang beberapa halaman dari orang-orang yang nggak pernah kukenal. Tapi, entahlah! Kali ini aku sedikit penasaran dengan pengirim surat itu. Apalagi isinya yang singkat menyebut-nyebut tentang tempat favoritku. Siapa yang tahu? Seingatku tidak ada.
Kuambil kembali surat tadi. Kubolak-balik sampai berkali-kali. Meneliti satu per satu tiap sudutnya. Barangkali saja kutemukan petunjuk siapa dan darimana pengirim surat ini berasal. Kucoba melihat bekas stempel di atas perangko surat. Yang tampak adalah seberkas tinta yang telah pudar. Tapi beruntunglah aku karena tekanan pada logam stempel membentuk garis-garis yang terbenam pada kertas, sehingga aku bisa melihat tulisan yang tertera meskipun samar-samar. Ah, tidak seberapa jelas. Aku berusaha keras menyusun huruf demi huruf dalam otakku. S-I-N-G. Sayang, ada tiga huruf yang hilang. Tapi dua huruf terakhirnya tampak tebal, sehingga mudah kutebak apa tulisan yang tertera. SINGARAJA. Dan aku yakin Libra-lah yang mengirimnya.
Ah, lagi-lagi aku dibuat terkejut olehnya. Apa yang diinginkannya pada 16 Juli nanti? 16 Juli... 16 Juli... berarti dua hari lagi. Di tempat favoritku. Ehm, sebentar! Di tempat favoritku? Berarti... dia bakal ke sini? Ke kota ini untuk menemuiku, setelah delapan tahun berlalu...
Kegalauanku petang ini akhirnya disadarkan oleh setumpuk pekerjaan yang membentang di depan mata. Setumpuk puisi Jaroslav Seivert yang harus kudokumentasikan dalam komputerku, selembar lukisan Monalisa yang harus segera kubingkai, dan setumpuk fax yang menunggu untuk kukirimkan malam ini juga.
Kukira, setelah kuselesaikan semua pekerjaan itu, malam ini aku bisa mendaratkan tubuhku dengan mulus di atas ranjang lalu menikmati kelelahan hari ini sebagai suatu kenikmatan. Tapi mataku tetap terbuka nyalang karena kehilangan selera tidur. Insomniaku kambuh lagi. Kambuh di saat yang tidak tepat. Saat kenangan-kenangan masa lalu membuat rongga dada menjadi sesak. Tersesat ke bilik jantung. Dan terbang liar dengan bebas memenuhi pikiranku.
16 Juli...
Suara halus di seberang memasuki gendang telingaku setelah kuputuskan menerima panggilan Libra yang berkali-kali melalui ponselku.
“Aku sudah menantimu sejak jam empat pagi. Apa kau punya waktu untuk menemuiku hari ini?” tanyamu tanpa ada unsur untuk memaksaku datang meski ku tahu betapa besar harapanmu agar aku mau menemuimu.
“Sekarang masih gerimis. Siapa tau nanti malah tambah deras.” Elakku tanpa basa-basi.
“Oh, jadi kamu nanti nggak bisa datang...” sahutmu lirih yang lebih pantas disebut sebagai keluhan.
Keraguan merayap perlahan dalam otakku. “Jarak rumahku dan stasiun tidak terlalu jauh. Sekitar 15 menit ditempuh dengan kendaraan. Aku pasti datang.” Jawabku mantap tanpa pikir panjang. Entah bagaimana kata-kata itu meluncur begitu saja setelah beberapa detik sebelumnya kuputuskan untuk tidak usah menemuimu.
Keteduhan langit dan udara yang sejuk oleh sisa-sisa hujan, t’lah mengusir titik-titik peluh di leher dan hampir seluruh tubuhku. Aku merasa tertolong oleh redup awan mendung, tapi di sisi lain tubuhku semakin gemetaran saat langkah kakiku semakin mendekati tempatmu menungguku. Terlintas di pikiranku untuk segera angkat kaki berbalik arah dan meninggalkan stasiun yang biasanya selalu membuatku nyaman. Tapi terlambat! Senyummu telah mengisi lensa mataku dan membuat langkah kakiku tetap bergerak ke arahmu. Akupun melihatmu terbebas dari deretan kursi untuk menyambutku.
Aku benar-benar terharu menyaksikan tatapan matamu yang letih karena kerinduan. Tanpa banyak kata terucap, kau selalu menyampaikan perasaan-perasaanmu tanpa pernah bisa menyembunyikannya dengan sempurna.
Hari sudah hampir larut setelah kita habiskan waktu tanpa kita sadari. Kau putuskan untuk pergi dari kota ini, malam ini juga. Tidak ingin membuang waktuku lebih banyak lagi, itu alasanmu.
Kutemani kau mencari tempatmu bersandar di kereta yang akan membawamu pergi. Entah kenapa, kau tersenyum kecut padaku saat kau tahu bahwa jendela kereta yang kau tumpangi itu retak tepat di sisi kirimu.
“Sudah kutemukan tempatku. Kau bisa pulang sekarang. Aku takut kamu kemaleman,” tegurmu halus tanpa ada maksud mengusirku.
“Aku akan pulang, setelah kudengar peringatan kalau kereta akan berangkat,” jawabku singkat.
Untuk beberapa lama, kita berdua terdiam.
“Apakah benar kisah ini t’lah kau jadikan sebuah kenangan?” tanyamu memecah keheningan.
“Apakah pantas kisah kita dikenang, jika kisah itu t’lah memberimu rasa kehilangan?” tanyaku balik.
“Kenangan itu takkan pernah bisa terhapus, Scorpio. Dia akan tetap hidup dalam ingatan kita! Ingatanku, maupun ingatanmu! Aku tak percaya kau t’lah melupakannya!” kali ini kau berbicara dengan nada sedikit meninggi. Aku tahu kau tidak akan memanggil nama panjang seseorang, kecuali kau sudah terlalu payah mengatur emosimu.
“Aku tidak melupakan kenangan itu, Libra! Aku juga tidak berusaha menghapusnya. Jika aku memang menghapus kenangan-kenangan itu, tak mungkin kupendam rinduku akan pulau itu! Elakku.
“Jika bukan menghapus kenangan, lalu kenapa kau tak pernah lagi singgah dan memijakkan kaki disana?”
”Aku menghapus perasaanku, Libra. Perasaanku yang dulu!” ujarku perlahan tapi bagai pisau yang menyayat hatinya.
Andai kau tahu, bukannya aku tak mau memijakkan kakiku lagi dipulau itu, tapi aku takut... Perasaanku di masa lalu muncul kembali,” ujarku lirih.
Di tengah pertengkaran berbisik yang terjadi, suara petugas melalui pengeras suara menyadarkan aku dan Libra bahwa kereta akan segera berangkat.
“Pio...”
“Ya...?” sahutku singkat.
“Tahukah kau? Tak pernah kupedulikan langkahku menempuh jarak sekitar 400 kilometer untuk mengunjungimu tiap akhir minggu. Semua kulakukan demi kerinduanku padamu. Tapi selalu dan selalu saja aku mematung di stasiun ini, tanpa berani memijakkan kaki di depan pintu rumahmu. Dan aku... masih tak percaya akan keputusanmu sore tadi.”
“Libra! Pintu rumahku terbuka untuk siapa saja, termasuk kau!” kataku gamblang.
“Tapi pintu hatimu tak pernah terbuka lagi untukku.”
“Libra, sudahlah! Jangan kau teruskan!” bentakku.
Samar-samar kuamati matamu yang sayu. Entah karena kelelahan atau karena sebab yang lain, dia sandarkan kepalanya pada jendela kereta yang t’lah retak itu. Seperti prajurit kelelahan yang baru pulang dari medan perang raut wajahnya di malam ini.
“Ini... dengarlah saat kereta mulai melaju,” kataku sambil menyodorkan sekeping CD yang kukeluarkan dari discmanku.
Dia mengambil discman itu dari tanganku dan memindahkannya pada discmannya.
“Sengaja kurekam semua isinya dengan lagu yang sama. Kuharap kau mengerti perasaanku. Selamat tinggal, Libra! Kereta sudah mulai bergerak, aku harus pulang.”
“Jangan kau ucapkan selamat tinggal, Pio... aku masih ingin bertemu denganmu lagi suatu saat nanti,” mohon Libra sambil meraih tanganku.
“Hati-hati ya Libra!” ujarku sambil berbalik arah meninggalkannya.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak kupedulikan gerimis malam yang lama-lama berubah menjadi deras hujan. Kuputar lagu yang sempat kuberikan pada Libra. Syukurlah kumasih punya dua CD yang sama.
Aku tak tahu kemana lagi harus mencari ketenangan. Tak mungkin aku pulang menyetor wajah kepada Mama Papa dengan mata yang masih sembab. Tanpa sadar kutepikan mobil di bibir pantai yang t’lah kulewati. Jarum-jarum air menempa tubuhku setelah aku keluar dari mobil. Hujan di mataku bersatu bersama hujan yang turun dari langit. Masih terngiang-ngiang lirik lagu milik Jikustik di kepalaku, meski aku yakin kalau suara tape mobil t’lah dikalahkan oleh deras hujan.
Maafkan aku untuk kesekian kali
Kuraih hatimu, dan kupatahkan lagi…
Kuharap kau bisa pahami
Waktu aku… berucap ini…
Jalan hidupmu akan berubah nanti
Dan kita simpan semua kenangan ini…
Kuminta kau jangan menangis
Tegarlah sekuat karang
Dan aku tahu, aku pasti merindukan
Semua hal bodoh yang pernah kita lakukan
Tersenyumlah… redakan aku
Yang merasa bersalah padamu
Ini saatnya, kita harus mengerti
Kereta ini ‘kan membawamu pergi
Dan bila kau sampai di sana
Tak pernah ada lagi… kita…
Kebisuanku di antara hujan, akhirnya berakhir setelah aku dikagetkan oleh getar ponselku. Aku tahu Mama pasti menyuruhku segera pulang. Buru-buru aku masuk mobil untuk mengecek ponselku.
Saat ini... hatiku seperti jendela kereta yang retak saat pertemuan tadi. Tak bisa pecah dengan tuntas. Tetap terperangkap diantara bingkai yang nyaris pecah tapi tak bisa terlepas. Seperti itulah perasaanku padamu. Hatiku terluka tanpa kutemukan obat penawarnya. Ingin menghapus perasaan yang ada, tapi kutahu itu tak semudah yang kukira. Aku akan tetap mencintaimu Pio... meski hatimu tak lagi kau buka untukku, aku akan setia mencintaimu...
Libra... kau membuatku menangis lagi malam ini...
Surabaya, 22092005
Di Terik Siang
Imey
“Jangan tanyakan apa yang telah (kampus) Negeri ini berikan padamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada (kampus) Negerimu”.
Kutipan tersebut setidaknya sangat mewakili keadaan kita sebagai warga kampus yang pada pertengahan Januari lalu diwajibkan membayar SPP dan uang SOM (bagi kawan-kawan MABA) sebagai bentuk pemberian kita yang tak bisa di tunda lebih lama lagi untuk kampus tercinta kita.
Tapi, disini mari kita berpikir positif.
Yaah.., sejumlah uang itu mungkin belum seberapa dibanding biaya yang dibutuhkan kampus untuk keparluan kita agar bisa berkuliah layaknya sebuah proses perkuliahan ideal.
Buktinya, yang kita dapatkan disini masih jauh dari apa yang kita harapkan dari sebuah kampus ideal.
Mungkin ada banyak alasan di atas sana, misalnya : biaya administrasi, perawatan dan perbaikan fasilitas, gaji karyawan, dan lain-lainnya yang masih banyak dan tak boleh disebutkan secara transparan di depan kita.
Bukan tak beralasan kalau kita berniat menuntut lebih atas banyaknya masalah yang kita hadapi setiap harinya di lingkungan kampus. Bayangkan saja.., Kita mulai dari masalah fasilitas. Baca buku seadanya di perpustakaan, padahal perpustakaan adalah jujugan pertama saat kita butuh banyak referensi untuk pengayaan materi kuliah. Ruang kelas yang panas, bukan karena tiap kali ada debat atau diskusi tapi karena AC (air conditioner) hanya berfungsi sebagai hiasan dinding, kesulitan cari tempat untuk diskusi masalah kuliah di kampus. Mau buang air di toilet malah air toiletnya yang sering mampet, mungkin karena takut kekeringan di musim kemarau, kita harus membantu menyiram tanaman agar tetap subur. Mau makan di kantin, eh.., malah dapat fasilitas gratis mandi sauna. Belum masalah lainnya, Dosen yang sering datang terlambat setengah jam atau lebih dari jadwal perkuliahan, pada kesempatan lain dosen juga ikut-ikutan mahasiswa bolos. Transkrip nilai bermasalah, bukan dalam kategori alphabet A-E tapi malah T, belum lagi harus mengurus tetek bengek administrasi / birokrasi di BAAKPSI kampus ketintang.
Memang beginilah realita yang kita temukan di kampus lidah wetan, namun pada akhirnya, kita cuma bisa berharap semoga mereka tidak benar-benar tuli, kita kembali mengingat ada pepatah yang mengatakan;
“Jangan tanyakan apa yang telah (kampus) Negeri ini berikan padamu, tapi apa yang telah kamu berikan pada (kampus) Negerimu”.
Jadi konco-koncoku, ..pada intinya,
Belum ada kepastian dari tulisan diatas, tanpa adanya pembenaran sanggahan dan sangkalan dari teman-teman yang membaca, apakah kesimpulan dari tulisan di atas cukup mewakili atau malah tidak sama sekali.
Untuk itu GERILYA mengundang teman-teman untuk membuat opini atas fenomena “ketidakberesan” yang kalian tangkap di kampus kita ini dalam kontes “GERILYA Free Style Writing”. Kirim dalam bentuk tulisan maksimal 1 lembar folio, spasi 1,5, font Courier New ukuran 11. Kumpulkan ke Tim ROCKET, Sastra Indonesia ’04 dan ditunggu sampai edisi GERILYA berikutnya!
Karena ini SERIUS!!! jangan lupa menuliskan nama dan nomor registrasi kalian, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tulisan yang kamu buat, kita mendukungmu kawan.
INGAT!!! 3 Tulisan terbaik akan mendapat imbalan yang pantas.
Diposting oleh GERILYA di 09.09 0 komentar