*Mana mana tahan
Mana mana tahan
Lihat jaman sekarang
Pemuda pemudi berani pacaran di
tengah jalan...
Ya mana tahan rek, sakjane pengen mbahas
akeh pergerakan pemuda + pemudi jaman
sekarang, tapi ga setuju!!! Namanya saja GERILYA,
meski maksudnya begitu tapi mbok ya jangan
begitu -lah.
Asline lho, kita yo wes ngerti kan kalo pemuda
+ pemudi = Garda depan perjuangan bangsa Indonesia,
sejak dulu.
Tapi kalo liat pemuda pemudi jaman sekarang,
terutama di kampus kita tersayang ini...
Mana tahaaaaaaan!!!
Yo fenomena iki lho, yang membuat GERILYA
kembali muncul (lagiii). Dalam edisi ini kali
kita mencoba-lah memberi arti untuk 28 Oktober.
Tapi ya gitu, kita ga bisa muluk-muluk rek,
sing penting gimana respon kita agar tanggal
dan bulan bersejarah itu tidak hanya berlalu
begitu saja.
Yo wes- lah rek...kudhu tak tangiiiiiiiisii
ae...
* OST Mana Tahan,
Warkop DKI
Ironis Memang...
"Sejarah saya kira bukan hanya untuk dikenang. Akan lebih indah lagi kalau sejarah itu dapat dikaji, dipelajari, dan dijadikan bahan pencerahan untuk
membangun hari esok yang menjanjikan (D. Zawawi Imron, JP)."
Mengingat bulan ini bangsa kita memiliki sebuah tanggal bersejarah maka
tidak salah jika kami mencoba sedikit memberi arti, meskipun berupa oretoretan
kecil karena BANGSA yang besar adalah BANGSA yang memahami sejarahnya
sendiri. Sebagai bahan pencerahan untuk membangun hari esok yang lebih
baik, seperti yang dikatakan Zawawi Imron di atas. 80 tahun silam pada
tanggal itu, kaum pemuda se-Nusantara memiliki gawe besar. Ya, betul.
Kongres Pemuda II. Kongres ini menghasilkan 3 sumpah janji setia untuk
menyatukan visi dan misi kaum pemuda terpelajar saat itu, pasti kita ingat
di luar kepala tiga janji tersebut ???!!! Para pemuda dari berbagai pelosok
Nusantara melepas primordial kesukuan. Mereka menyatukan rasa dan hasrat
untuk satu bangsa, satu bahasa, dan satu Tanah Air. Kesamaan riwayat dan
kesamaan kehendak telah menyatukan anak muda dalam ikrar Sumpah Pemuda
pada 28 Oktober 1928. Ikrar itu pun menjadi mantra mujarab yang mampu
mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaan.
Sadar atau tidak, peran pemuda (terpelajar)sangat menonjol pada
masa itu, serta dalam perkembangan berdirinya Negara Indonesia sampai detik
ini. Kaum terpelajar pun dianggap
pengawal serta agen perubahan, baik
itu budaya, politik, sosial
dalam suatu Negara.
Tidak bisa dipungkiri bagaimana peran pemuda, sebelum dan saat pembacaan
teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada saat 17 Agustus ’45, setelah
adanya Sumpah Pemuda tahun 1928. Kemudian aksi demonstrasi Soe Hok GIE dkk
menjatuhkan rezim Orde Lama dengan paham demokrasi terpimpinnya tahun
1966, yang akhirnya melahirkan rezim Orde Baru. Berkat jasa para aktivis
mahasiswa, beberapa dari mereka diangkat menjadi anggota parlemen.
Di tahun 1998, saat krisis ekonomi melanda wilayah Asia Tenggara, termasuk
Negara Indonesia. Mahasiswa menemukan momentumnya untuk bergerak, yang
pada tanggal 21 Mei 1998 mencapai puncaknya dengan jatuhnya pemerintahan
Orde Baru, yang biasa disebut era reformasi.
Prestasi-prestasi pemuda dan kaum terpelajar di atas sangat bertolak
belakang dengan ‘prestasi’ pemuda-pemudi saat ini. Yang terhangat atau
baru-baru ini diekspos oleh media massa adalah tawuran mahasiswa antar-
Universitas. UKI (Universitas Kristen Indonesia) Vs YAI (Yayasan Akutansi
Indonesia) dan UKI Vs UBK di Jakarta pusat. Tawuran tidak hanya terjadi
antar-Universitas. Di Universitas Negeri Padang (UNP), malahan terjadi
tawuran antar-Fakultas (tambah syiiipp ae), pancen tembelek sendhen.
Ironis memang peristiwa tersebut terjadi menjelang peringatan hari Sumpah
Pemuda, yang semestinya dijadikan momentum dan bahan renungan arti Sumpah
Pemuda sebenarnya, untuk menghasilkan ide-ide kreatif bagi kemajuan bangsa.
Tragisnya, ikrar Sumpah Pemuda itu kini sudah sayup-sayup terdengar dihempas
gelombang selera generasi baru yang gemar hura-hura. Generasi baru yang
mulai mengidap penyakit amnesia sejarah, penyakit lupa riwayat. Generasi
instant yang membunuh proses demi menggapai hasil dan tidak mampu berkarya
yang bisa dikenang sepanjang perjalanan detak jarum detik. Saat bangsa ini
sedang terancam disintegrasi, perlu kita kaji kembali arti pemikiran yang
disampaikan dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.
Yowes,
Emboh lahhh….
Bangkit Pemudi Pemuda Indonesia!!!
Bangkit Indonesia!
Jayalah Unesa…
Amiiin.
* GERILYA
Thanatos Syndrom
Hariku semakin kelam tak ada lagi yang dapat aku lakukan selain merenungi
setiap kejadian, hati pikiran dan perasaan mati senyap dalam gelap. Mungkin
si lentera putih mulai lupa dengan apa yang hendak ia perbuat kala itu
untukku, ia yang menghidupkanku dari ancaman kematian yang siap
menertawakanku. Sekarang malam tanpa hujan tinggal puing-puing yang roboh
oleh amarah dendam yang mulai bangkit lagi dari kuburnya. Wangi itu mencuat
dan menyengat di sela-sela hidungku, “aku bisa ngerti apa yang hendak kau
pikirkan dan aku siap membantu semua keluh kesahmu tanpa pamrih apapun aku
ikhlas karena aku menyanyangimu seperti engkau menyanyangi diriku sendiri.
Maaf malam yang larut aku tak sanggup menghias bias putih yang sedang kau
bangkitkan dari tidurmu.
Lembut kecap tanpa melekat di setiap tindak tanduk alami yang aku lakukan
setiap takdir kuratapi dengan menyadarkan diri kalau memang dialah yang
menggegam nasibku. Si bising pagi meneriakkan keangkuhannya membuat tidurku
semakin tak tenang, walau dari awal yang tidur hanyalah hati dan perasaan
yang mati dan telah kau tinggalkan karena anggapan mu akulah yang tak
pernah mengerti apa yang seharusnya aku lakukan disaat seperti ini. Mati
selalau membayangi setiap nafasku , ingin kukatakan “aku ingin tau apa
yang kau perbuat dengan takdirku dan apa yang telah engkau rencanakan
dengan engkau mempersatukanku dengannya”. Semua gelap dan aku mulai menguap,
lelah rasanya diburu hidup mungkin terdengar aneh dan sangat membingungkan
seharusnya hidup yang kuburu tapi kenapa aku yang diburu hidup. Suasana
itu muncul lagi di hadapkan ku dengan rasa yang sangat merindu entah aura
atau bisikan nya mulai kudengar perlahan-perlahan membayang dan mulai
membusuk dari ingatanku aku rindu saat itu aku ingin kembali disitu dan tak
ingin kembali lagi agar sedih, bersalah , amarah dan segala penatku tak
hinggap lagi diantara sisi telingaku. Akhirnya kulahirkan juga sebuah
bunyi dari dalam perutku yang mengembung selama sehari dan ini mungkin
yang terakhir akan kukeluarkan, sebagai tanda kesedihan. Selamat malam
bagi malam yang tak pernah pagi setelah siang, semoga awan menjadi mendung
diatara hujan.
Tubuhku lelah dengan segala yang terjadi namun rintihan pagi mulai menanti
dan perlahan aku semakin takut untuk menatap si bunga tak berwarna. Ingin
kukatakan sekali lagi, jadilah aku agar kau tau aku dan jadilah dirimu agar
kau mengerti betapa keras hati serta keinginan kita. Apa yang aku pertahankan
tak jauh beda dengan apa yang kau tanyakan kala itu. Aku tak sama dengan
siapapun bahkan orang manapun kau harus tau itu.
*Ada tanpa nama
Burung Dongeng
oh, burung malam berhentilah sejenak
nyanyikanlah kidung angin, seperti
ibu
saban malam mendongeng kancil
belajar mencuri timun yang diam-diam
disembunyikan
abah kusni di lumbung beludru
menyanyilah, menyanyilah burung malam
agar
kutahu kunang-kunang masih berdandan
pada elok paras bulan bertelanjang
dada
dan
kupu-kupu belajar menari,
menangkap bunyi selendang ibu
terkubur di gemerisik daun bambu
oh, burung malam berhentilah sejenak
antarkan aku sebuah tembang yang tak
luntur
menggilas benang gelasan dalam
layang, seperti ibu
saban pagi menjerang timba mengisi
kendi berlumut gelugu
dan
kupu-kupu belajar mencuri,
pagi
yang tertidur berselimut lembu
terdampar di senyum ibu
Desember 2007
Kamis Malam
bangunlah, yang selalu berkemul.
Ini gunung berguncang-guncang dan
pasir-pasir putih beterbangan
menyumbat kerongkongan menjadi anakanak
beruban menanti cerita usangmu
yang selalu kau pungut di bandar
gebang.
bangunlah, yang selalu mengepul.
Telinga-telinga tikus sibuk meronda
kucing-kucing rumah yang asik
bermain dadu menggoreng wajah labu
menjadi kupu-kupu enggan menari
gambyong teringat kunang-kunang tak
lagi punya lampu.
bangunlah, yang selalu mendengkur.
Ini radio mencuri warta langit, ada
bayi tak mau menangis dipeluk ibunya
karena tetek ibu tak lagi asin
seperti dulu yang selalu kau sepuh
mengemas menggelontong lontong
bertubuh batu.
: ini malam, butuh apimu
Desember 2007
*Yus Arha
‘LIBURAN’ SETELAH LEBARAN.
SEBUAH BUDAYA ATAU KEBIASAAN SEMATA...?
Saya terkejut ketika melihat
berita di televisi yang memberi
peringatan keras terhadap para oknum
pegawai negeri yang bolos kerja di
saat setelah lebaran. saya berpikir,
kenapa peringatan itu mesti ada.
Apakah secara otomatis mereka belum
tersadar akan kewajiban sendiri
sebagai pegawai negeri.
Bolos atau membolos identik dengan
siswa di sekolahan, mahasiswa di
kampus maupun seorang karyawan atau
pegawai di lembaga atau instansi
tempat ia bekerja. Suatu hal yang
sudah menjadi biasa dan wajar di
mata kita. anak SD pun mampu untuk
menyusun satu baris kalimat dengan
kata kunci ‘bolos’. apalagi kita
sebagai civitas Perguruan Tinggi
(PT), paling tidak belasan kalimat
yang berbeda dengan sisipan kata
‘bolos’ pada susunan kalimat yang
kita buat atau bahkan dalam bentuk
paragraf juga dipastikan mampu.
Jika didefinisikan secara
sederhana ‘bolos’ ialah…yawislah
ngerti dewe kan maksute. Seluruh
dunia akademik ataupun non-akademik
pastilah mengerti pula. Bolos
merupakan suatu tindakan dan
perbuatan yang salah, namun menjadi
sesuatu yang dianggap biasa serta
membudidaya.
Begitupun di dunia kampus. ketika
pihak kampus memberi keputusan bahwa
setelah libur lebaran diharap segera
masuk kuliah. Ini saya kira sudah
klise, bahkan sangat klise sehingga
pengumuman ini dicantumkan di
dinding-dinding kampus agar para
mahasiswa dapat melihat pengumuman
itu dengan jelas. namun, nyatanya
ketika saya benar-benar mematuhi
aturan tersebut, tidak secuil pun oknum
kampus yang hadir tepat waktu. yang
saya temui paling awal adalah tukang
parkir kampus. kok begitu ya…? ya,
emang begitu nyatanya. lha wong adanya
juga begitu. tapi, mbok ya jangan
begitu, kasihan yang nggak begitu.
kesadaran sosial kita saya rasa kurang
terdidik dengan benar. kepincangan
tersebut sebenarnya bisa teratasi
secara mandiri dan harus ada kebiasaan
individual yang tertanam sejak dini.
memang setiap individu tidak sama.
namun, jika kita kolektif untuk
membangun diri kita agar terbiasa untuk
bersikap disiplin itu perlu.
“Kalau menurut pembaca opini mini
ini, gimana?”
Kita tinggalkan dunia sekolah dan
dunia kerja, di sini kita bicara saja
tentang dunia kampus. Di musim liburan
semester atau libur Lebaran yang baru
saja berlalu. bagaimana aktivitas saat
masa libur habis, faktanya suasana
kampus tetap lengang sama saat
aktivitas kampus libur. Di sini kita
bicara tentang kampus kita tercinta
Unesa Lidah Wetan. Kegiatan pada hari
pertama perkuliahan setelah libur
lebaran, Oktober 2008. Berbicara
tentang fakta yang ada, seharusnya
seluruh ruangan baik lantai I, II,
dan III terisi oleh mahasiswa yang
mengikuti perkuliahan dengan masingmasing
dosen mata kuliahnya. Tampak
satu ruang di lantai II di salah satu
jurusan di fakultas FBS yang tampak
ada aktivitas perkuliahan. Jelas tidak
perlu menyebutkan siapa dosen,
mahasiswa jurusan apa, dan angkatan
berapa, karena itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu untuk kita jawab.
Sedang di sudut ruang yang lain maupun di luar gedung tampak beberapa
mahasiswa yang sedang ngobrol, ada yang lagi jabat tangan karena masih
dalam suasana Lebaran mungkin, yang jelas inilah fakta yang ingin kami
ungkap.
Padahal, keputusan dari kampus mengenai masa aktif perkuliahan melalui
masing-masing ketua jurusan telah disampaikan kepada mahasiswa. Contoh
jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ada selembar pengumuman yang diketik
dengan ukuran font 14 lengkap dengan tanda tangan ketua jurusan dan setempel,
ditempel di papan pengumuman. Dan sepertinya itu hanya menjadi sebuah
pamphlet belaka.
Mari kita renungkan masalah sederhana ini yang entah telah menjadi
sebuah budaya atau kebiasaan semata. Semoga tulisan singkat ini dapat
menjadikan kita untuk lebih bijak ke depannya. Dan jangan sampai ada
tulisan-tulisan sejenis ini muncul dan menjadi sebuah wacana di lingkungan
kampus kita ini.
* Paijeko
SRN’05
...
kamu merdu berpadu: menyelinap
raga tembus jiwaku
membahana cakrawala menjelang
binasa
inikah arti cinta: kemelut birahi
songsong nurani
terseok-seok cabut nurani kembali
pergi: esok berdiri
menantang sepi, menjalar emosi
terpendam cinta pada sang
hawa: marahlah
padaku: bumi getarkan tajinya:
sambut marah
sang duka
hari ini kubangan belati temani
berlari: lewati terik hari
tanpa mentari
malaikat cinta tebarkan aroma
surgawi, menepi di tepi kali
munajatlah wahai derita cinta
bukan tuhanmu mati: sembunyikah
sehingga rasa jiwa
tak lagi menggelepar
duduk merenung sang sombong:inikah
alih posisi
begini
keremangan jelaga temani indahnya
karunia
lagak pahlawan kesiangan mencapai
puncak asmara
orgasme keriangan mencapai klimaks
terseok-seok
gelepar
sambil pekikkan merdeka
sampai mati, mungkinkah mati merdeka
berjuang sampai mati daripada
merdeka
sama saja
Keluh
meracau
mengeluh sepanjang siang
sang sombong
beringas mengganas
perlukah teduh menemani
awan badai
tembus nurani
jelaga menggunung
pekat
gerombol kelud menebas balas
gerilya dapat suaka
mencari mimpi dini hari
tengah hari mengapai-gapai
di tepi kali
buah cinta hanyut
sepi…
menanti ajal hampiri
ajakan birahi
menjadi-jadi
esok nanti bumi mati
napas tergopoh
selami lagi
lusa tuhan datang
bersama alibinya
merasa darah memekat
melayar ke pelupuk sukma
kemarin iblis menangis di kakiku
menderu
kau hitamkan awan
dari pucuk cakrawala
malaikat menyungging
saksikan cinta merana
sepi
kembali
*isn isn_26@yahoo.doc
SRN’05
Cita-citaku
Cita-citaku ingin menjadi polwan
mana mungkin aku hanya lelaki
Cita-citaku ingin jadi Bu Ahmad
mana mungkin aku hanya lelaki
Oh Ibu jangan paksa aku
aku tak sudi jadi Bapak Ahmad
sedih,
hatiku sedih
terlahir sbagai seorang lelaki
Oh Tuhan tolong hambamu
terlahir sbagai seorang lelaki
Oh Ibu jangan paksa aku
Cita-citaku ingin menjadi tomboy
mana mungkin aku hanya lelaki
Cita-citaku ingin jadi lesbian
mana mungkin aku hanya lelaki
Oh Ibu jangan paksa aku
aku tak sudi menjadi homoseks
sedih,
hatiku sedih
terlahir sbagai seorang lelaki
Oh Tuhan tolong hambamu
terlahir sbagai seorang lelaki
Oh Ibu jangan paksa aku ini bukan jaman Siti Nurbaya
Lagi...
*The Panas Dalam
“mumpung masih muda, kita wajib bermimpi dan menggantungkan citacita,
tapi kalo gak kesampaian jangan terburu putus asa...
jangan-jangan ada yang gak beres dengan yang kamu cita-citakan
kayak lirik lagu di atas...”
Dyampot
Jika malam ini mulai retak
Akan kubinasakan kelabu di baitmu
Lalu siapa tau warna kelabu hatiku
Jika si pembalang tua mulai renta
Sayuh payuh kau lempar di buihnya
Terhapus ombak oleh warna
Aku hilang di lautan tak bertuan
Mencari jalan yang telah hilang
Aku bukan diriku yang pernah ku tau
Atau dirimu yang mengenaliku
oleh: eM-Je
PUNYA UNEG UNEG-UNEG?
karya?
opo aelah!
Tulis!! dalam bentuk apapun
bebas, Sak’enake atimu...
Coz daripada nganggur, enak gak nganggur...
Silakan kunjungi kami di :
www.gerilya8.blogspot.com
“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan
saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang,
karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru.
Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru,
maka kemajuan sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan
dari kamus umat manusia.”
(Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal 325)
Rabu, 29 Oktober 2008
OPENING 9 "Mana Tahan!!!???"
Diposting oleh GERILYA di 01.29 16 komentar
Rabu, 10 September 2008
Penanggungjawab
GERILYA
Editor
GERILYA
Kontributor
Suluh DP.
Distributor
Isnan A.
Workbase
Konter a’an
Jl. Babatan I no 28
Website
www.gerilya8.blogspot.
com
Email
gerilya_8@yahoo.com
Tim Boyok Sempal
Tim Ajez PA/GU
INTERMESO
Siap!!! Yakin ta?
Sugeng rawuh teman-temen mahasiswa dan terutama mahasiswi angkatan 2008 di belantara Unesa. Siaap!! Yakin tha??
Yaopo anune rek? Wis ga anu tha? Sing ngunu tambah ngono ta anu? Sakjane kepingin anu tapi anune wis ngunue!! Enake anune digawe ngono-ngonoan ae!! Setuju ga setuju buyar.
Sekadar combe-combe lagi sekaligus per-kenalan untuk teman-temen yang baru kali ini memegang GERILYA, berikut adalah maksud keberadaan kami (sejak awal terbit), yaitu: 1)Turut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa, 2)Turut serta menjaga perdamaian dunia, 3)Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Fakultas Bahasa dan Seni, serta 4)Menjaga stabilitas kenyamanan berkuliah.
Sebagai sebuah media (lha koen sopo?), tentu kita mempunyai fungsi dan tujuan. Pada prinsipnya GERILYA datang di saat yang tidak penting tapi penting dan ada demi kepentingan bersama, kalo reaksi pembaca puas dengan GERILYA, kami seneng. Tapi kalo ada semacam manusia yang tersinggung, kami lebih seneng. Berarti yaa tujuan kami tercapai.
Inilah kami, dan beginilah rubrik kami, yang berada di jalur lain, yang mencoba menawarkan perbedaan dari rubrik yang lain-lain. Semoga karya sastra tetap dipandang dan dihargai sebagai karya sastra.
Hidup kebebasan berekspresi!!
Daripada mbatin thok rek...
Lebih baik tak tulise...
Sing bener/ga bener, iki yo dalam rangka mencintai FBS, kritik ga berarti etrek-etrek.
Yo sopo eroh... akhire gak diperhatikan, tapi lak wes dibaca...
****YO WIS SELAMAT AE****
Ospek: Don’t Worry Uuu...yeah...
Hallo... Hallo... Mahasiswa baru (maba), yaopo rek ospek e? enak ya dibentak-bentak mahasiswa lawas (senior)? dikongkon ngono-ngene, nggawe ngono-ngene, trus nggowo ngono karo ngene. Yo wis sing penting isok kuliahlah...
Sakjane lho sekelumit hal di atas bukan kalian saja yang pernah ngalami, awak-awak iki lho wis mblenger aliase bosen (bored) malahan, mosok sejak SMP sampek SMA...(dengan terminologi beda tapi realitasnya tetep) embohlah rek, yaopo ngunu iku??
Lhaa... seperti ospek yang pernah kita alami bersama, aksi-aksi senior telah menjadi lingkaran setan yang menyelimuti dunia pendidikan. Lebih parahnya lagi semua itu diterima sebagai hal yang wajar oleh para “korban” maupun sebagian penghuni kampus. Sebagai contoh kecil saja, mungkin sebagian dari kita pernah dibentak ataupun diejek oleh para “oknum” panitia ospek sehingga dalam diri “korban” menimbulkan ketakutan psikis. Naah...ketakutan psikis ini tanpa disadari kemudian mengalir menjadi ketakutan fisik, dimana reaksi para Maba kalau cuma diam selama ospek yo agak memudahkan para senior mem-plokotho kita alias banyak godaan dan gangguan.
Saiki lho rek tahun 2008, koq... mbohlah sakkarepmu?? Masih perlu tha dengan pola menakut-nakuti dan di takut-takuti?? Boleh mikir asal jangan parkir!!
Yo wis diakhiri ae timbang mbulet. Sing penting harapan kami dari kegiatan ospek yang diadakan pihak kampus beberapa minggu lalu tidak mubazir atau percuma, dengan memunculkan mahasiswa/mahasiswi yang mampu berpikir kritis serta di tunggu ide-ide segarnya (semoga), walaupun tidak banyak yo ga po2 sing penting maneh yakin ae rek sama ide perubahan dari kalian biar suatu sistem berjalan dengan semestinya demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat FBS dan menjaga stabilitas kenyamanan berkuliah. Anggap tidak ada lagi senior dan junior, yang ada hanyalah penciptaan mahasiswa/mahasiswi yang egaliter karena kita di sini sama-sama belajar demi menatap masa depan cerah biar ajiip...
Akhirnya semboyan yang mendengungkan “senior pasti benar” perlu didekontruksi oleh mereka-mereka yang sadar akan kebenaran sejati dan bukan kebenaran semu. Bravo FBS...
FBS bersatu tak bisa dikalahkan!!
Yakin tha??
Hidup mahasiswi!!
(mahasiswa ga usah)
Jayalah Unesa (aaamiiiiinnn)
We’ll be right back ... hehehe...
*)GERILYA
Karya Sastra Tanpa Intervensi (?)
Dalam kehidupan yang sudah terlalu banyak cincong ini, sebuah karya sastra seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi —dalam arti dinamis-. Karya sastra sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif untuk membuat “yang berbeda” dalam hidup kita yang sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.
Sepaham dengan Sapardi Djoko Damono, “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutinitas yang mengelilingi kita. Kehadirannya membuat kita bisa melakukan perjalanan “ulang-alik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.
Mungkin itulah sebabnya Om Sapardi mewanti-wanti mereka yang menulis sastra di koran untuk tak mau kalah dengan berita. Ya, hari ini, kita adalah manusia-manusia yang tak lagi mudah terkejut atau gampang menyebut sesuatu sebagai sensasional. Teknologi yang terus dipercepat itu telah memungkinkan kita melihat banyak hal ganjil, langka, sekaligus menggetarkan, dalam frekuensi yang amat sering.
Tanpa adanya sorotan yang kadang harus “melibatkan” banyak media massa misalnya, sebuah kejadian akan mudah kita lupakan dan membuat bosan. Tapi yo..., perlu diingat rek bahwa kodrat media massa memang hanya bisa memberi sesuatu yang mungkin saja secara kuantitatif amat banyak tapi secara kualitatif menjadi amat jauh dari “kebutuhan” pribadi kita. Oleh karenanya, ia bisa sangat membosankan, bahkan sebelum ia benar-benar sampai di depan mata kita.
Pada titik itulah karya sastra seharusnya hadir. Ibarat satriya piningit yang ditunggu-tunggu dengan tubuh tergopoh yang kokoh atau malah sudah siap roboh, ia mungkin akan datang pada kita secara kebetulan. Awalnya mungkin kita merasa sama sekali tak terkesan pada karya sastra dan telah siap mengusirnya pergi dari hadapan kita. Tapi percakapan sebentar dengannya bisa jadi akan membuat kita terpesona, lalu kita akan menyilakannya tinggal lebih lama dan kita akan mendengarkannya banyak bicara dalam waktu yang jauh lebih lama.
Setelah semua itu, mungkin saja mendapati diri sebagai seorang yang telah kuyup metafora atau telah menjelma menjadi manusia yang teliti pada diksi atau rima. Tiba-tiba, ia telah ada di hati dan kita membawanya ke mana saja kita pergi. Kita boleh saja berpisah dengannya —lama atau sebentar— tapi suatu saat kita yakin akan menemuinya kembali: mungkin saja ia yang kembali datang pada kita atau justru kita yang mendatanginya sambil tergopoh-gopoh. Di situlah, sebuah karya sastra akan jadi subversi.
Masalahe rek, tak semua puisi atau fiksi selamanya menjadi subversi. Kadangkala, karya sastra justru menjadi sekadar “repetisi” dari dunia yang kita diami sehari-hari. Ya, tidak semua karya sastra yang kita jumpai akan memberi kita subversi: sebagian hanya menyuguhkan kata-kata yang “belum jadi”, sebagian lainnya sibuk memberitahu sesuatu yang sudah kita dengar ribuan kali melalui berita, sinetron, kitab suci, kuis, atau iklan. Karya sastra dalam dua jenis itu sudah tentu akan jadi sesuatu yang justru menambah kebosanan kita.
Ketika sebuah zaman di mana seseorang bisa memaki presiden tanpa harus takut masuk bui, masihkah kita membutuhkan puisi-puisi bernada protes? Tapi rek, di jalanan atau di coretan dinding, di kantor atau kamar mandi, kita masih terus-terusan disuguhi protes? Bukankah Indonesia hari ini adalah sebuah negara yang hidup dari protes ke protes?? Yo weslah !!
Sejumlah penyair memang melahirkan sejumlah puisi yang disebut-sebut sebagai “roh gerakan” (kebangsaan?) dengan bernada protes, ternyata hal tersebut bisa sangat berarti bagi kita, bukan hanya sebagai pribadi tapi juga sebagai sebuah bangsa. Sebutlah nama penyair seperti ; Taufiq, Rendra, dan Wiji Thukul. Mereka hidup dalam suasana yang berbeda amat jauh dengan kita. Taufiq ada dalam pusaran perlawanan terhadap orde lama: puisi-puisinya dalam “Tirani dan Benteng” adalah manifestasi dari “janji untuk bertindak” yang didorong oleh sejumlah demonstrasi. Rendra dan Thukul ada dalam era orde baru yang amat anti terhadap segala hal yang subversif. Maka, sajak-sajak pamflet Rendra dan kata-kata Thukul —“Hanya ada satu kata: lawan!”— menjadi sesuatu yang amat berarti kala itu karena tak banyak yang berani memproduksinya.
Sebuah sajak protes, bagi sebuah pemerintahan yang tak membolehkan kritik, bisa menjadi sesuatu yang amat “menakutkan” karena ia bisa membuat orang ramai tahu ada suara berbeda yang masih hidup. Sajak protes, sama seperti ketelanjangan, bisa menjadi sesuatu yang subversif ketika ia ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tapi keduanya hanya akan menjadi lucu ketika hidup dalam suasana yang tak mendukung.
Membaca sajak-sajak yang demikian, mungkin kita justru akan diam di tempat atau segera merasa bosan dan kemudian cepat lupa bahwa kita pernah membacanya (?!?) Sekirane awak dhewe wes ngertilah, sekarang tinggal bagaimana kita sebagai generasi muda harapan bangsa (...wuuuih) melanjutkan arahnya ????!!!!!!
Wassalam. ;-)
S03L03H
*)Diunduh dari berbagai sumber
Apa Kata Dia Orang???
Oleh
Cintcha Lauworeq*)
Awalnya kitcha ouwrang sempat ragu untuk menurunkan tulisan ini dalam GERILYA, karena bukanlah suatu kebiasaan membuat semacam reportase atas suatu peristiwa dalam rubrik ini. Tetapi kenapa tidak, toh semangat GERILYA tetap ada dalam bentuk tulisan berikut, dan yang terpenting berfungsi. Fungsinya apa? Yo, seperti biasanya lo, gak lupa kan?? Demi FBS yang kitcha ouwrang cintai bersama.
Kichta ouwrang gak bisa... -alah pegel rek! Biasa ae yo?!!- (...Lagi) Kita gak bisa tinggal diam mengetahui sesuatu yang bisa sangat berguna terlewatkan begitu saja, apa lagi untuk kebaikan. Hhh... Yo weslah!! Sudah saatnya disebarluaskan, hal penting itu adalah:
Pidato Sambutan Bapak Dekan FBS dalam Yudisium Mahasiswa S1 dan D3 Semester Genap 2008, ini penting rek!
Yakin ta?? Yo wes, yakin.
Tapi sepenting apa pun tetap kita bawa nyantai aja, OK?
Saudara-saudara, kenapa kita anggap penting karena Bapak Dekan menyoroti FBS, artinya kita dapat melihat FBS dari sudut pandang pemimpinnya langsung, mantab kan? Patut kita hargai kedatangan Bapak Dekan waktu itu, dalam keadaaan tidak begitu sehat beliau memaksakan diri untuk hadir dalam upacara tersebut.
123! Satu per satu ritual acara dilaksanakan. Bukan itu, yang kita ulas di sini adalah pidato sambutan beliau, berikut adalah beberapa ungkapan yang kami kutip:
“ITU NAMANYA KURANG AJAR”
Seperti disiram air es di tengah hari yang gerah, segerrr! Ya, ungkapan bercetak tebal di atas ditujukan kepada dosen-dosen yang molor memberi nilai pada mahasiswanya, bahkan sampai beberapa semester setelah kuliah berakhir. Beliau juga tahu kalau sering terjadi, bahwa ada mahasiswa yang disuruh mengambil nilai ke rumah si dosen, padahal rumah si dosen jauh dari kampus, bahkan di luar kota. Terutama dosen-dosen dari jurusan ‘ini’.
Ah, jerit hati kita terdengar juga, benar kan saudara?? Atau paling tidak mereka sudah dicap kurang ajar. Semoga bisa menjadi pelajaran dan tidak meruncingkan hubungan antara mahasiswa dengan dosen.
“SAYA JADI NELONGSO”
Demikianlah ungkapan Bapak Dekan ketika mengetahui salah seorang ketua jurusan tidak hadir dalam upacara yang cukup penting tersebut. Terlepas dari penting atau tidaknya, wajib datang dan tidaknya menurut beliau yudisium tetap perlu, dan beliau mengaku memaksakan diri untuk hadir meskipun dalam keadaan sakit rematik, dan memang benar sepanjang acara beliau hanya bisa sambil duduk. Maka, kembali jurusan ‘ini’ jadi sorotan, padahal lo... !!
Ah, gak taulah, yang jelas banyak dari mahasiswa jurusan ‘ini’ juga mengaku kecewa. “Sepertinya kita dilepas tidak sehangat kita diterima dulu, apa kurang bayarnya ya?” demikian tutur ED, mahasiswa jurusan ‘ini’. Suatu ungkapan sederhana yang bisa jadi memang demikian(?).
“KITA SELESAIKAN DENGAN DAMAI SAJALAH”
FBS masuk metropolis watch, Jawa Pos edisi 26 Agustus 2008. Sungguh disayangkan, apalagi penulisnya adalah pacar seorang cewek dari jurusan ‘itu’ di FBS Unesa yang mengaku kecewa terhadap kinerja birokrasi Unesa.
Kemudian Bapak Dekan menyatakan kekecewaannya jika sampai benar-benar terjadi hal demikian, maka beliau tidak membenarkan apa yang telah dituliskan di rubrik “wadulan” dalam koran nasional tersebut.
Di antara teman-teman mahasiswa yudisium juga setuju, bahwa serumit apapun urusan administrasi dan masalah yang kadang terjadi dengan petugas yang berwenang, semua masih dalam taraf wajar, dan dapat dimaklumi, kita akan tetap menjunjung tinggi nama kampus ini. Unesa!!!
...Oh, Almamaterku tercinta aku akan selalu... OK, cukup!
Akhirnya acara selesai dengan dipapahnya Bapak Dekan oleh dua orang pegawai TU untuk meninggalkan ruangan.
Tentu saja, tidak semua kutipan dapat dimuat di sini. Kita tidak memilih yang manis-manis, karena terlalu biasa. kita hanya mengambil beberapa bagian yang dapat dijadikan kritik sebagai upaya untuk kemajuan FBS, dan ternyata bagaimana hasilnya saudara-saudara? Ah, semoga kesimpulan kita tidak jauh berbeda.
Sekali lagi, semua bahan di atas diolah langsung dan asli dari pemimpin FBS. UASLI!!
HIDUP FBS!!!
*)Penulis tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa yang pengen diakui sebagai pengguna Bahasa Indonesia yang baik dan benar, saat ini menunggu hari eksekusi.
Cerpen:
Lelaki yang Kehilangan Senja
Oleh
Dody Kristianto*)
Denyut kota tiba-tiba mendadak hitam. Kota berubah dengan alir mati mengikut alur dari cerita seorang pengarang yang memotong senja. Ya, semenjak senja dipotongnya, tanganku tak lagi mampu membedakan mana kanan dan kiri. Mataku sering kali ketakutan, mengintip mataku sendiri. Serta bayanganku, yang acapkali terlepas kabur diburu oleh jejak kegelapan. Aneh, bukankah bayang-bayangku sendiri adalah representasi dari kegelapan?
Tapi tidak demikian dengan sebuah keluarga. Atau lebih tepat tetangga berselisih dua rumah dari rumahku. Mereka begitu hidup. Kehidupan mereka begitu malam. Pernah suatu ketika aku melihat mereka sekeluarga beramai-ramai mencopot otak mereka. Hii... Tapi itu dua bulan lalu ketika aku kali pertama tiba di kota ini, untuk mengikuti hilangnya senja yang dipotong oleh seorang pengarang. Ah, pengarang yang iseng, apa yang ada dalam pikirannya? Aku tak tahu. Mungkin juga sama dengan pikiranku yang anehnya juga ingin memotong senja.
Pun aku juga kerap berkirim surat elektronik untuk si pengarang.
”Pengarang yang terhormat, kiranya aku pun juga hendak memotong senja, sama dengan alur cerita yang kau bangun. Hai, mengapa engkau selalu mendahuluiku? Tidak hanya itu, kau bahkan menyalipku dengan sedan silver-mu yang kutahu terdapat bekas goresan pada pintu sebelah kanan. Dan kalau kuingat, itu terjadi ketika aku ingin menangkap dan membingkai senja. Kau terlalu egois. Betapa senja itu telah engkau kantongi. Aku cuma bisa menengok, melongok ke dalam jantungku. Tidak, tak cuma jantungku. Bahkan juga mataku, telingaku, lidahku. Juga kutengok jauh ke dalam otakku, kubongkar. Tanpa senja tentunya”.
Sejak itu, senja jadi semacam obrolan di kota ini. Bagiku senja sudah menjelma hantu dan si pengarang asyik masyuk memainkan senja di kantongnya. Setiap sore, kujumpai orang-orang mengais bintang. Bintang? Lalu apa hubungannya dengan senja. Sepertinya tidak ada dan lucu sekali. Sebuah rumah persewaan kunang-kunang di buka sebagai pengganti rasa penasaran terhadap senja. Tapi aneh sekali, kota yang tadinya metropolitan ini jadi kota yang kehilangan senja. Senja yang aneh, sudah jadi tren di kota kasihan ini.
Sementara aku sendiri tak begitu percaya kau semudah itu memunculkan senja sebagai cerita berbingkai dalam kumpulan ceritamu. Mungkin juga cerita-ceritamu sudah menjelma novel kecil. Novel yang menculik senja. Kau masih saja asyik memainkan senja di kantongmu. Tak peduli betapa kau dikejar oleh polisi, tentara, helikopter yang siap memburumu di mana pun kau berada, sampai di got gelap sekalipun. Dengan segala hormat, aku pun mulai putus asa. Betapa rumahku kini panas, menara-menara patai, tempat persinggahanku ketika hari sore tak lagi ceria. Semua karena keegoisanmu yang memotong senja dalam ceritamu. Untuk pacarmukah? Egois sekali.
Untuk sekali ini, aku pasrah, takkan kukejar senja yang sudah kau kantongi. Biar kau peluk senja sebagai bantal, gulingmu atau juga boneka yang menemani perjalananmu. Biar aku lupakan senja. Atau juga menemukan senja baru. Senja yang tentunya belum sempat kau potong dan tersimpan dalam kantongmu. Aku tak mau untuk kali kedua kau dahului. Tentu aku akan mencari senjaku sendiri. Dan aku ingin sekali
***
Lalu mulailah kucari senja. Kujejaki dalam mimpiku. Pertama, aku penasaran pada keluarga yang begitu hidup, begitu malam. Aku curiga barangkali mereka menyimpan senja. Barangkali juga mereka percik senja. Tapi entah, otakku juga turut berseri saat memandang mereka. Rambut-rambut dari kepalaku mulai rontok, sampai kepalaku berkilat seperti halnya senja. Tidak. Ini bukan senja yang kucari. Ini bukan senja. Ini aneh.
Sekejap kemudian mereka kuhindari. Mereka aneh, bahkan sangat aneh. Dan tidak mungkin senja yang damai kutemukan pada keluarga seaneh itu. Ke mana lagi harus kutemukan senja? Semoga aku beruntung saat terlempar dalam mimpiku. Bukankah mimpiku ini masih belum terjamah? Belum tersentuh, sekalipun oleh diriku. Aku mulai bergerak menyusuri tepian pantai. Waktu masih menunjukkan pukul 15.00, masih ada harapan. Dan harapan itu memang ada dalam pikiranku. Seperti juga senja yang ada di depanku, yang selama ini kucari dan kuburu.
Memang indah, memang anggun senja sore ini. Sekian bulan sudah aku tidak menikmati senja. Akhirnya tiba juga senja yang pulas. Tapi tiba-tiba sekejap saja pantai ini didatangi satu per satu penduduk kota. “Hei, ini senjaku. Ini mimpiku!” teriakku pada mereka. Mereka tak peduli. Mereka tak mendengarku. Mereka makin asyik saja menikmati senja yang sekian lama hilang dalam hidup mereka. Mereka mengabaikanku. Tapi ini mimpiku, tentu hanya aku yang berhak atas senja yang selama ini kucari.
Namun kami semua terkejut. Senja tiba-tiba merayap hilang dan seperti terpotong. Kami semua gugup, berteriak resah. Tak terkecuali aku sang pemilik senja. “Hei, ke mana senjaku? Apa yang kalian lakukan pada senjaku?” tanyaku. Mereka semua panik. Mereka berhamburan semburat. “Senja hilang, senja hilang lagi!” teriak mereka. Mereka tak perduli pada pertanyaanku.
Dan aku melihat sesosok yang kukenal. Dengan sedan silver, dengan bekas goresan pada pintu sebelah kanan. Ah, dia si pencuri senja, dia si pengarang. “Oi, tangkap dia!” orang-orang berteriak marah. Si pengarang tancap gas bersama senja yang sudah dikantonginya. Para penduduk kota tak ketinggalan mengejarnya. Aku langsung menaiki motorku. Kukebut dengan harapan aku bisa mengejar si pengarang. Semua yang ada di kota ini dikerahkan. Anjing-anjing pelacak, polisi, tentara, helikopter, pesawat pembom. Seluruhnya beramai-ramai mengejar si pencuri senja. Malam ini headline pada acara televisi, radio, koran, majalah, serta jurnal-jurnal adalah “SI PENCURI SENJA BERAKSI LAGI”. Kota kembali murung.
Si pengarang terus tancap gas dengan senja di kantongnya. Tak peduli bahwa seluruh kota mengejarnya. Aku pun tak kalah giat memburunya. Motorku terus kupacu, melewati jalan-jalan, gang-gang demi kudapatkan senjaku yang hilang. Tapi pengarang itu begitu lihai. Sorotan pesawat dan helikopter berhasil dilewatinya. Begitu juga dengan endusan anjing pelacak yang bisa dikelabui. Ia bisa tenggelam. Ia ditelan waktu. Aku kehilangan jejaknya. Ia hilang. Ia seperti pesulap yang dengan luar biasa menghilangkan menara tertinggi di dunia. Bahakan lebih dari itu. Ia adalah pencuri yang licik. Ia adalah pengarang yang luar biasa.
***
Malam ini kota kembali ramai. Senja yang hilang. Kota yang senyap. Penduduk yang histeris kehilangan senja. Mereka masih mencari di setiap sudut kota di bawah kolong jembatan, gorong-gorong maupun terminal bawah tanah. Tapi, aku sudah lelah. Kepalaku penat. Rambutku mulai berjatuhan. Berita-berita di televisi masih serius mengabarkan hilangnya senja. Aku mulai tidak kuasa menahan rasa lelahku. Aku mengantuk. Aku ingin tidur. Namun, bukankah aku sedang bermimpi? Dan kenapa aku harus tertidur dalam mimpiku? Bukankah aku harus segera mencari senjaku yang hilang?
Tiba-tiba aku menerima sebuah surat elektronik. Ternyata berasal dari si pengarang. Isinya berbunyi: ”Saudaraku, terima kasih engkau mau mengalah memberikan senja dalam mimpimu untuk ceritaku. Aku sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Pun, aku juga bukan orang egois. Aku tidak akan memotong senja hanya untuk pacarku. Aku cuma ingin membingkai cerita ini. Teruslah memburu senja. Kelak kita akan bertemu setelah kau temukan senjamu. Biar cerita ini terus mengalir dan membangun senja dalam dirimu. Teruslah mencari senja. THANKS, PENGARANG”. Sontak kubanting layar komputer sampai pecah berkeping-keping dan dari pecahan-pecahan itu terpercik bunga listrik.
“Kurang ajar!”
*) Penulis adalah pelajar Unesa
Puisi:
Di Bangku Malam
Kupangku keesahan dalam benak membara
Terhunus keris yang mengabur indah
Meronta segala rona jiwa terbukti di kali berbuih
Kereta memutar resah menjala gelisah
Sehari sudah mengolah gerak
Tapi malam kan mengelam
Sesampai hitam menikam
Berbagai sepi terurai sampai pagi
Air mata mengalir lagi
perspektifsastra.blogspot.com
Perang
Kirab panglima tertatih menjemput pedih
Sekompi artileri berurai perih
“aku menanggung malu pati negeriku”
Kira ini sensasi?
Telah berjuang sekompi ini
Kupasung anak isteri di bui(.)
Hingga habis usia ini
Berkoar dalam bencana
Menggila di arena pancung diri
Berebut nasi sepanci
Di terik mentari.
(saat kuliah hari rabu presentasi proposal pagi cukup dingin)
perspektifsastra.blogspot.com
Diposting oleh GERILYA di 21.17 0 komentar
Minggu, 23 September 2007
Gerilya Edisi 4

Ta’ Sunggo’i....!!???*)
Halo konco koncoku..Halo sahabat sahabatku..Halo dulur dulurku..Halo koncone koncoku..
Tanpa bermaksud mengurangi nilai estetika yang ditawarkan oleh teman-teman dalam karyanya di sini, Pengantar dari kita pembawaannya emang gini, Relax.., Santai.., Enjoy.., mungkin rodo’ Nggaple’i. Tapi intinya gak gitu, iki serius wah!! “Paham ya, maksud saya ?”
Ho hoouey..!! ☺
Parahnya, sempat terpikir gak ada edisi Gerilya kali ini, ‘cuz satu dan lain hal. Untungnya kita segera ingat bahwa GERILYA merupakan media milik khalayak, yang berarti bukan hanya milik satu golongan (banyak yang udah ngantri e).
Akankah GERILYA rampung?
“ooo...gak bisa gitu!!”
“Kan gak asyik to?!!!”
inilah alasan tema yang kita angkat untuk edisi kali ini
“Perang Belum Berakhir”
Dan satu hal lagi, “Kenapa Satu? Yaa.., saya tau satu itu default, tapi dibalik itu ada sesuatu”.
Apa yang kita hadirkan kali ini semoga berkenan buat teman-teman. “Yaaa...nggak banyak sih, tapi semoga bisa membantu kalian”
Ini jadi semacam hasrat yang nggak bisa dibendung lagi, hingga pilihan kata yang meluncur: “Keleresan, kulo badhe nderek bebucal” ... mak brull.
(Alaah..!! iki opo maneh?!! )
Poko’e ekspresi ini harus disalurkan di tempat yang benar.
G E R I L Y A ! !
Kalo masih bingung dengan kata-kata kita, silahkan mencoba “Pendekatan Cultural Studies”.
Oh iyo.., meh lali Bo’ !!
Awak dewe ape matur suwon:
Semua teman-teman yang telah ndukung & nyumbang GERILYA (Moril & materiil)
F Tse (Kiriman Detektifnya), Tim Cagak (Kita sama-sama hamba Allah), METAMORF*** (LAKUM DIINUKUM WALIYADIIN), Trio Kebo (Aduhai.., kalian berlebihan), Trio Macan (Saran Yang Konstruktif), Koncone Koncoku (Sepurane=Suwon), SR ‘04 (Kelas Yang Aneh), Arek Non Reg (We Love U Guys!), 9 Bidadari Sastra Inggris (Masya Allah!!!, Karaoke dengan kalian benar-benar bikin kita Puas !! )
Pak Jack P. (Atas Saran dan Cokcokcokcoknya)
Pak Nadjid (Dukungan dan Kontribusinya)
Dan semua pihak yang telah mengontaminasi & menginspirasi kita, termasuk dalam bentuk kutipan-kutipan.
*) Variasi Bhs. Khas Gresik
SELAMAT MENIKMATI
**** PELOEK TJIOEM DARI KAMI ****
Suicide
Hatiku berbisik lirih di tengah kesunyian malam yang semakin
menggila memeluk erat kesendirianku kali ini. Ya, setidaknya
aku masih hidup kali ini. Meski hanya sekadar untuk tengadahkan
kepala yang ada di atas leherku.
Malam yang bagiku maha luas dan yang selalu digambarkan banyak
menuntut kesunyian yang tergaris dalam makna ketersisihan,
kini tak lagi mampu menyeruak, membekukan ribuan buluh nadi
di tubuhku. Dingin itu tiada pernah lagi kurasakan di
permukaan kulit yang membungkus tua nyawaku; nyawa yang
berdiri sebagai alasan terbesar bagiku untuk tetap di sini,
menanti fajar yang akan membunuhku kelak.
Sesekali ku coba serukan pada hati kecilku bahwa aku tak
mampu menguraikan arti hidup yang lelah ku jalani hingga kini,
lantas kenapa aku masih terus hirupi sesak udara di tengah usia
yang kian menua. Bukankah semua kebodohan dan khilafku ini
telah cukup untuk dijadikan-Nya alasan kirimkan malaikat
padaku, lalu dengan ketajaman matanya, mencabuti nyawa yang
tercecer di setiap sendi tulang rapuhku. Mungkin saat itu
aku tak akan mampu menangis, tak mampu kiaskan kesedihanku
lewat kata atau pun raut muka, karena sekali lagi, aku
telah lupa dengan semuanya. Aku bagaikan tubuh tanpa hati,
tak mampu merasa, tak lagi dunia buatku tergoda.
Wahai engkau kidung-kidung yang mengantarkan kelelapan sang kala, jangan pernah lagi kau lantunkan barisan irama sumbang itu dalam rona bait-bait gelap, irama bersajak rintihan masa laluku. Mungkin aku hanya tak inginkan lagi masa itu kembali menghantui otakku yang lemah ini, karena di sana masih tersimpan harapan untuk anak bungsuku, satu-satunya sandaran imajiku, agar tiada pernah dilakoni olehnya sebuah cerita yang maha kejam, yang telah membunuh aku, ayahnya, secara perlahan-lahan dan begitu menyakitkan. Sekiranya ratusan pedang tumpul bergerigi yang ditancapkan di tubuh lalu secara bersamaan dan pelan-pelan dicabut seraya digoyang-goyangkan ujungnya, rasa sakit itu tiada sebanding dengan derita yang merangkulku. Tak pernah terkiaskan dengan seribu doa-doa yang kerap terucap dari mulut yang hangus terbakar jilatan api kemurkaan, sebuah neraka yang telah diciptakan manusia di dasar hati mereka.
Jika hanya untuk sebuah keabsahan tanpa ujung, kenapa hidupku ini terus kuperjuangkan? Untuk apa usia ini kulalui layaknya meniti sehelai bayangan samar, tanpa sebuah kepastian, tanpa arti. Dan jika tak kurengkuhi sisa helai nafasku, aku pun tak ingin bertanya-tanya pada takdir tentang siksaan yang kujalani kelak, sebagai sebuah imbalan manis atas deru emosiku. Aku merasa semakin jauh dengan diriku, meski tak kulihat segumpal dosa yang menghalangi langkahku. Apakah aku hidup, atau mati, atau tengah berada di batas hidup dan mati, terdampar di dunia yang kosong tak berpenghuni, sendiri, sepi, lalu sedikit demi sedikit menghilang seperti asap yang mengepul di antara sekat-sekat nuraniku. Kosong, kata yang selalu ingin kuperdengarkan pada mereka, mimpi yang fatal, tak bermoral, namun terasa kenyal, seperti pelacur binal, yang telanjang di atas bantal. Tampak menggoda, dengan nafsu yang menggelora. Menggelinjang pasrah, tak kuasa luapkan amarah, berteriak dan mendesah, lalu tergolek lemah.
Itulah mimpiku, mungkin sebuah cermin keresahan yang tertuang dalam imajinasi tanpa arah. Seperti semuanya, aku yang seakan lemah tanpa harap, mencoba lupakan angan itu, hingga tak harus kudapati kembali ingatan atasnya, meski telah terbias sedari aku bergelayutan dalam rahim Ibuku.
Adhany Hakim
.....Keberuntungan
.....Kemalangan
.....Kebahagiaan
.....Kesedihan
Dalam kesedihan,dalam kebahagiaan,dalam keberuntungan, dalam kemalangan,dalam keberuntungan,dalam kesedihan,dalam kebahagiaan,dalam kemalangan,dalam ke..,dalam ..,dalam...
Dalam..
Dari..
Perenungan
Penantian
Kesendirian...
Hanya gaung dari teriakanku sendiri yang kudengar,
kemana semua orang?
Sejauh mata memandang sejauh itulah perjalanan, dan sejauh ini hanya penderitaan
Pintu-pintu kembali ditutup
Haruskah aku kembali mencari
Haruskah makna mengurai arti
harusnya
Masih tentang makna dan arti
Tunjukkan!!
Kau bekali aku kuku, gigi, dan pengindera
Masih saja...
Kenapa tak kau tunjukkan bagaimana aku harus hidup
Dalam kekuatanku ada kerapuhanku
Dalam pengelihatanku ada kebutaanku
Dalam hidupku menyembunyikan kesekaratanku
Aku hanya tak ingin kerinduanku padamu mengantarkan aku lebih sesat dan menjauh darimu
Tunjukkan padaku bagaimana aku harus hidup
Lee Hay
Jo-To-San Inn, April 07
ANyelir JINGga
Matanya membekas di mataku. Bibirnya yang kukulum mengenyahkan ragu yang membelenggu. Di sudut, aku temui dia mengulum senyum pahit yang menggigit. Ia lari dalam dekapku. Buatku tersadar, ia bukan milikku. Kebersamaan selama ini hanyalah mimpi.
An, kau kabut yang tak tersentuh. Kau datang penuhi relung setiap ruang kosong yang hadir. Warnai pagi yang beku dengan putihmu. Pergi saat hati ingin milikimu. Apa maumu tak ada yang tahu.
Saat itu aku melihat sudut matamu yang basah, sebutkan satu nama yang pernah kau cinta. Di dekapku kau tumpahkan aliran hangat yang bagiku itu adalah aliran kasih tak terperi. Lalu kau pergi.
Kamu memang kabut. Yang menutupi pandangan keindahan pagi. Yang mendinginkan kehangatan pagi. Yang basahkan udara untuk kuhirup. Kau racun. Tapi ku tetap suka. Menghirupmu.
“Aku bukan mentari, Re. yang kan hangatkan di pagi yang kau jalani. Aku kabut seperti yang telah kau cipta di setiap langkahmu. Ku tak bisa senantiasa temanimu seperti angin yang kau sukai, serta debu yang kau cintai. Aku kabut yang senantiasa datang dan pergi sesuka hati. Aku kabut yang senantiasa basahi paru-paru lalu membunuh. Aku racun. Racun yang cantik. Terlalu cantik untuk dimengerti.”
Selalu itu saja yang selalu kau ucap tiap kuminta kau tinggal di sisi. Temaniku dalam kesepian yang membelenggu. Temani hariku yang tinggal satu-satu.
An...
Kenapa kau kabut? Kenapa kau bukan udara? Yang kan senantiasa suplai oksigen dalam darahku, mengalir di setiap rongga hidupku. Apakah karna aku bukan pagi yang bisa menerima kehadiranmu? Atau aku terlalu lacur untukmu? Yang selalu menghirup wangi ... di tubuh mawar-mawar berduri. Beritahu aku An...
“Aku berubah bukan karna cintaku pada pagi. Bukan. pula tak ada cintaku padamu, Re. Namun kau sendiri yang mengaburkan pandanganku, menjadikanku kabut yang rapuh. Mudah lenyap saat kau mencoba menggenggamku. Aku kabut karena kau bukan ruang yang kuharapkan.”
Setelah itu kau akan pergi ke gunung-gunung tuk berkejaran dengan pinus yang manjakanmu, dengan belaian rumput basah yang menenggelamkanmu dalam cinta, dengan tanah merah yang kan mendekapimu dengan hangat serta tetesan embun yang buatmu tersenyum.
An...
Anyelir Jingga...
Aku tak mau ucapkan kata pisah, karna kita tak pernah berjumpa. Anggap saja demikian. Aku tak mau pergi, karna ku tak pernah datang pagi ini. Biar saja begini. Aku tak akan mendekapmu, karna ku tak pernah milikimu. Bukan ku merayu.
Hari selalu berubah hingga kau mau merubah kabutmu menjadi udara pagi bagi Re yang lain. Aku tetap di sini, di dalam gundukan tanah merah ini, yang siap mendekapmu, jika pagi tak lagi temuimu. Dan kau serta merta menaburi gundukan ini dengan putihmu yang suci, meski hati tak kau beri. Gundukan ini tetap kan dampingi hingga tetesan embun tak lagi banjiri sudut matamu.
19.18
Room, 030407
eLCeeS
Kembali Pada Sebuah Cinta
Kembali pada sebuah cinta. Aku
Menitipkan daun murbei ini untukmu
Kusisipkan setetes embun pada urat-uratnya
Untuk mengingatkanmu, pada geliat tanah
Yang menjalari darah lelakiku
Aku mengingatkanmu
: akan angin dan daun kering yang bercumbuan
serupa lonceng jam 12 malam, awal penyatuan
mimpi-mimpi kita
September 2006
Dody Kriswaluyo
Intermesso Dalam Renungan
Sendiri dalam luka penuh cambuk
Eluhku mengering perlahan
Mencoba raih jemari kasih-Mu
Ku rasakan sendiri nikmat menyepi
Melambungkan angan hingga titik akhir
Pun terasa damai di hati
Walau aneh mengusik mimpi tiap hari
Aku tlah kebal oleh kegembelan duniawi
27 Nov-17 Des ‘06
M1cky
Mikaart07@yahoo.com
Merana
Sulut nyala api
Dengan segala kesombongan
Serta keangkuhan diri
Persetan dengan fana
Semua hanya kepalsuan
Yang kuulihat
Ulat menggeliat dengan tawanya
Sendiriku
Meranaku
07.05
Son river, 14 April ‘07
Nyam2
A Great Beat
(untuk *Setangkai Melati )
Menyayangi dengan bergerilya? Ketahuilah bahwa tak semua rasa kesayangan dapat langsung kita ungkapkan untuknya. Ia yang kita sayangi, yang melebihi sayang kita kepada Tuhan dan Rasul-Nya, yang selalu memujanya tiap bulan menggantung, yang tak lepas membayangkannya, yang mengharapkan mimpinya, yang selalu mengejar cahayanya, hingga memanggil-manggil jiwanya setelah mentari anjlog, yang memercayainya dan meyakininya hingga ajal.
փ
ჰჰ
տ տ
უ…
Sebagian dari rasa yang amat itu, mungkin hanya kita ungkapkan melalui gerilya, mengendap-endap, muncul tak muncul, kebelet nggak kebelet, asal kita suka, asal kita bahagia, tak tahu berbuat apa. Subhanallah… Hanya berbekal tawakkal sajakah? Tak ada kasih tak berkorban. Terlebih nyawa sekalipun.
Tentunya kita tahu bahwa kegerilyaan itu tak selamanya membahagiakan, menyenangkan, membuat kita selalu tersenyum lebar atau sekedar mesam-mesem, hingga Malaikat Rokib dan Malaikat Atid pun meringis. Pasti ujung-ujungnya hati kita harus mengalami lachrymose, tersayat, memerih, mengaduh, menyesal, yang tak bisa terhapus layaknya goresan pensil disapu karet penghapus di atas kertas. Yah, walau firman-firman Allah tetap kita kecapi untuk melupakan rasa itu sebelum berangan malam, saat hati yang mengujung, meruncing, kala otak dihantuinya, namun pasti dan tetap tak terhapus kegundahan itu, yang masih bergentayangan di dalam isi kepala, yang entah dengan apa penyelesaiannya, kita hanya terus berpikir, merenung, terlebih melamun mematung seperti Joko Dolog, yang segalanya tak terjawab.
Ada baiknya jika kita memetik buah zaitun, menaruhnya di lidah, mengecapinya, lalu menelannya hingga usus menggiling. Mengungkapkan berbagai rasa keindahan itu dengan tidak bergerilya yang seolah kau sedang dalam peperangan. Walaupun kita terlalu menyayangi dan terlalu memikirkannya. Tetapi bersabarlah dengan hati putih, ikhlaskan segalanya. Pahamilah segalanya hanya dalam ikhlas.
Aku memercayaimu, yang tak pernah mengkambinghitamkan kasih sayang hanya untuk kau.
Hanya karena cahayamu.
12.26 am
Friday, 11 Rabiul Awal 1428 H
relleT
*inspired by Danarto
Doa Seorang Pendosa
Tuhan terima kasih...
Engkau telah hadirkanku
Tuk sambut tahun yang baru ini
Tapi...
Aku tau masih banyak tantangan di depan sana
Tantangan yang selalu ada disetiap aku melangkah
Tantangan yang harus kulalui
Aku tak berharap agar aku,
Kau jauhkan dari godaan!
Tapi aku harap kuatkanlah aku
Kuatkan tuk hadapi kenyataan!
Ku tahu...
Kau pasti kan menuntunku
Tuk slalu berjalan lurus sesuai rencana-Mu!!
03:36:56
Dwipa 010107
Sayatan Sayatan Tajam
Burung Nuri itu tertawa ngakak
Akan nasib kita.
Di mana luka-luka itu buramkan mata
Dan menyeret-nyeret nyawa yang masih tengkurap lemah.
Mimpiku sirna
Hanya ada tawa renyah sang penguasa
Nyawaku, arwahku merajuk dan menari
Mencari belatung-belatung yang masih
Terkurung dalam kebebasan tak pasti
Mencari jawab atas arti
Kebebasan dan kemerdekaan.
Soem Anna
SR’04
Sekotak Permen
Kamu...
Lama kutunggu
Kamu...
Udah janji malam itu
Bahwa kamu...
Ngajak nonton hari sabtu
Tapi mana?
Aku udah nunggu lama
Batang hidungmu nggak nongol juga
Kamu pasti nggak tahu
Aku udah habis makan permen berapa
Semenit... dua menit...
Emang nggak terasa
Tapi tiga puluh menit?
Itu udah lumayan lama
Satu jam masih kutunggu
Dua jam aku pergi berlalu
Kar’na sekotak permenku
Habis buat nungguin kamu
21.52 WIB
3 Desember 2002
Imey
PBSI ‘03
Kita Manusia
Kau, kamu, dan kalian
Bagiku Cuma sekedar
Bajingan!
Kau setan
Kamu korban
Kalian bangsa kebangsatan
Karena kita sama-sama manusia
Mbah ‘05
poet_aholic@yahoo.co.id
Suara Itu...
Keindahan suara yang meluncur dari mulut setiap saat dapat membius pendengarnya. Nada tinggi dan nada rendah yang sangat kontras akan terdengar serasi dan memesona jika terucap dengan kontrol yang baik. Nada-nada itu akan menjadi suatu harmoni seperti nyanyian penyejuk jiwa.
Nada tinggi seringkali membuat orang tercengang dengan lengkingannya yang menyayat hati. Semakin tinggi suaranya, akan membuat hati semakin merinding. Mencekam, seperti lamgit hitam. Ketika nada tinggi itu merendah, segala kerendahannya akan menerjang malam yang mencekam. Nada rendah adalah cahaya kedamaian yang tak padam oleh hembusan waktu. Suaranya senantiasa menerangi sudut-sudut kepalsuan yang menyesatkan.
Suara tinggi suara rendah. Sepasang namuun tak akan pernah bersanding. Suara rendah berpijak di bumi, suara tinggi menari di langit. Bumi mengandung jiwa, langit mengandung raga. Di mana mereka berada?
Suara tinggi suara rendah, temukanlah di dalam suara hati.
01:09
6 on des
Rindu Cahaya
Kesalahan demi kesalahan berlalu
Disapu redupnya cahaya jiwa
Hitam semakin hitam hariku
Tanpa tawa hanya tangis jiwa
Melihat jauh ke belakang
Semua telah usang
Hari hari indah yang dulu menjelang
Kini mulai kurindukan
Aku terjebak di hitam putih
Tanpa warna tanpa cahaya
Terjerat kemilau masa silam
Tanpa langkah Hanya angan
Diantara terbit dan tenggelam
Diantara dosa-dosa yang semakin menjulang
Ku di sini sendiri
Menanti kedatanganmu wahai dewi cahaya
Tuk sinari jiwa ini
Tuk tumbuhkan lagi asaku
Tuk mulai melangkah
Meninggalkan dosa dan kenangan indah masa lalu
Di sini aku hanya bisa menanti
Tanpa sanggup tuk mencari
Apakah kamu akan datang???
Mungkin kamu tidak akan datang!!!
June 05th 2005
Fandy Linggo Djiwo
British Youth ‘04
MUQATTA’AT 39 *)
SATUKANLAH aku, wahai Yang Maha Tunggal, dan aku bersaksi dengan sepenuhnya bahwa Tuhan adalah Satu, melalui sebuah perjanjian rahasia di mana tak satupun jalan menyediakannya!
Akulah kebenaran, dan kebenaran diberikan pada mereka yang terpilih, dari dasar pribadinya, dan tidak ada lagi pemisahan di antara kita,
Inilah kejernihan yang terpancar, berkilauan bagai percikan kilat.
AL HALLAJ
*) Dalam Diwan Al Hallaj
Diposting oleh GERILYA di 01.52 0 komentar